11 Maret 2011

Karena begitu besar kasih ALLAH akan dunia ini

Judul tulisan ini diambil dari kitab Injil Yohanes 3 : 16 yang lengkapnya demikian bunyinya: Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga IA telah mengaruniakan AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepadaNya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Perikop dari ayat ini adalah Percakapan dengan Nikodemus. Isi perikop ini terkesan kontroversi di awal tulisannya yang mana pertanyaan Nikodemus dijawab keluar dari konteksnya oleh Yesus. Cobalah kita simak percakapannya : Rabbi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai Guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda – tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya. Yesus menjawab, kataNya :” Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat kerajaan Allah. Sampai disini, bukankah percakapan ini terkesan kontroversi? Adakah makna dibalik percakapan kontroversi ini, terlepas dari berbagai sudut pandang para pembacanya. Secara umum Yesus bisa saja ingin mengalihkan perkataan atau pertanyaan dari Nikodemus. Terbukti Nikodemus terpancing untuk mengikuti dialog yang datang dari Yesus. Dalam pemahaman yang lain bisa saja Yesus tahu kemana arah tujuan dari perkataan atau pertanyaan dari Nikodemus demikian juga Yesus tahu jawaban yang Dia berikan nanti mungkin berdimensi luas dan butuh pembicaraan yang panjang dan berujung pada kerajaan Allah. Bagaimana kalau sebaliknya Yesus yang bertanya kepada orang Farisi; Apa yang sudah kamu lakukan di dunia ini dalam menggenapi taurat? Mungkin apa yang Yesus lakukan sesungguhnya harus kita manusia yang melakukannya sehingga dia tidak harus melawat umatNya. Sesungguhnya perkataan atau pertanyaan Nikodemus sangat menarik untuk kita cermati karena selain tanda – tanda yang Yesus lakukan, disana juga ingin mengungkap kemanusiaan Yesus. Pertama – tama haruslah kita pahami percakapan ini terjadi dua ribuan tahun yang lalu dalam artian pengetahuan manusia belum sehebat dan secanggih sekarang, sehingga apa yang disaksikan pada waktu itu tidak sepenuhnya mampu menjelaskan apa yang dilihat dan saksikan. Contoh sederhana pada waktu Yesus dibaptis, dalam Alkitab ditulis Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal diatasNya. Nah bayangkan kalau Yesus dibaptis di abad dua puluh satu dengan peristiwa yang sama terjadinya. Apakah akan ditulis seperti isi alkitab yang ada sekarang? Beberapa literature menjelaskan bahwa bangsa yahudi atau orang Farisi punya budaya mengungkap maksudnya dengan kalimat – kalimat kiasan atau tidak langsung pada maksud yang ingin disampaikan atau ditanyakan.

Satu hal yang pasti dari dialog yang kita anggap kontroversi ini adalah, tidak semua pernyataan atau pertanyaan harus ditanggapi atau dijawab secara spontan maupun lugas. Dalam pengertian lain, isi Alkitab berisikan ayat – ayat dan pasal – pasal bahkan kumpulan dari sekian banyak kitab – kitab. Bisa saja diartikan satu bagian ( letter lux) tapi yang terbaik harus diartikan secara utuh saling melengkapi satu ayat dengan ayat lainnya, satu pasal dengan pasal lainnya dan satu kitab dengan kitab lainnya sehingga ketika dibaca tidak terjebak dalam pengertian yang sempit dan hanya mengarah kepada satu hal saja yang biasanya justru hanya karena kita ingin mengertikan seperti yang kita inginkan. Bukan apa yang harus kita pahami secara utuh. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, mestinya langsung mengingatkan kita akan awal mula penciptaanNya. Itu berarti kita harus membaca kitab Kejadian, atau setidaknya kita mengingat apa yang tertulis dalam kitab Kejadian itu. Kemudian berbagai peristiwa dan persoalan yang timbul sesudahnya yang tertulis bahkan hingga kitab Maleaki yang menutup bagian kitab Perjanjian lama. Maka kita akan mampu memaknai kalimat dalam Yohanes 3 : 16 ini. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, adalah manifestasi dari semua ciptaanNya terutama pada manusia. Tapi apa yang sudah manusia perbuat, sehingga Dia harus datang ke dunia justru dalam rupa yang sama dengan ciptaanNya? Cobalah kita renungkan apa yang sudah kita lakukan sehubungan dengan penggenapan Firman Tuhan. Pastilah banyak dan sangat banyak yang belum kita lakukan sehingga Dia harus datang lagi untuk mengingatkan kita dan kalimat yang digunakan untuk mengingatkan kita Karena begitu besar kasih Allah akan dunia, hingga dikaruniakannya anakNya yang tunggal. Kalau Allah begitu besar kasihnya akan dunia ini ( manusia ) mengapa manusia sendiri tidak perduli dengan dirinya sendiri? Mungkin manusia hanya mengutamakan pakaian dan makanan. Padahal burung di udara yang tidak bekerjapun Allah pelihara. Itu berarti orientasi manusia jauh dari pengertian Allah Bapa di Sorga. Firman Tuhan yang pertama bagi manusia adalah beranakcuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu. Manusia memang bertambah banyak tetapi apakah sudah menaklukan bumi? Inilah persoalannya. Manusia dalam aktifitasnya hanya mengolah jasmani dan rohani, tidak pernah berkarya untuk menaklukkannya. Kalaupun ada yang berkarya, anda pasti terkejut karena tidak datang dari anak anak Tuhan yang terpasung oleh iman percaya semata, berharap pada karunia mujizat semata dan merenungkan semata kapan nubuatan – nubuatan akan menjadi nyata. Ketiga hal diatas tak pernah ditindaklanjuti menjadi misi manusia dalam kerangka menaklukkannya. Itu sebabnya dalam pemeliharaanNya Dia memperhatikan kalau kalau ada anak-anakNya yang melaksanakan perintahNya, Dalam penantianNya itulah Dia mengirimkan AnakNya yang tunggal. Kali ini dalam rupa Manusia yang sama dengan ciptaanNya. Sejak dalam kandungan perawan kudus Maria, Dia sudah mendemonstrasikan bagaimana seharusnya hidup ini disiasati dan dijalani. Kenyataannya manusia malah bergantung pada karyaNya semata dan bukan pengenalan dan pemahaman pada Sang Penciptanya. Kalau saja manusia tidak bergantung semata, mestinya ada missi yang jelas dalam kehidupan ini yang harus diusahakan dan dikerjakan. Setelah lawatan Allah dua ribuan tahun yang lalu manusia mendapat dua mandat dimana yang pertama pada waktu penciptaan dan yang kedua adalah Amanat Agung yang demikian bunyinya: Pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu. Dan baptislah mereka dalam nama Bapa Putra dan Roh kudus dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertaimu senantiasa sampai kepada akhir zaman. Baiklah kita renungkan sekali lagi. Mandat pertama adalah menaklukkan bumi. Sudahkah mampu kita lakukan. Kalau saja kita mampu melakukan mandate yang pertama, berarti sebagian dari amanat agung sudah kita lakukan, Sementara masalah baptisan serahkan sajalah kepada Yohanes – Yohanes muda dalam pelaksanaan tekhnisnya, boleh percik boleh dengan selam. Keduanya sah sah saja toh hanya symbol pengesahan atas pengakuan iman percaya. Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga dikaruniakanNya anakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Ayat ini seakan mengikat dua mandate yang diberikan kepada manusia. Mengapa demikian? Kalau kita renungan lebih jauh, mandate pertama adalah untuk sosialisasi antar manusia itu sendiri sementara mandate yang kedua adalah jalur antara manusia dengan Allah. Anda akan terkejut karena kedua mandate ini ternyata menbentuk Salib. Jangan coba – coba kita hanya ada di salah satunya karena Salib itu tidak pernah akan nampak. Kita mungkin mampu menghantar banyak orang untuk beribadah kepada Tuhan dan biasanya orang yang mampu justru menjadi arogan dengan demonstrasinya tentang iman percaya dan karunia mujizatnya. Dikatakan arogan karena dia lupa justru belum melakukan mandate yang pertama. Ingat hidup ini tidak semata mata rohani, tetapi real kehidupan fana yang harus dijalani dan disiasati. Terlepas pada bagian akhir kehidupan manusia yang bisa diartikan kematian jasmani sehingga apa yang dijalani dan disiasati seakan kehilangan makna. Oleh sebab itu tidak mungkin dipisahkan satu dari keduanya. Ketika manusia hanya melakukan mandate yang pertama, maka hasilnya adalah stress sebagai dampak pertama dan kalau masih memaksakan dampak berikutnya adalah depresi dan terakhir trauma yang biasa disebut hilang ingatan alias gila. Demikian juga jika kita hanya melakukan mandate yang kedua semata. Memang ada damai sejahtera dalam menjalani kehidupan nyata ini, Bahkan dengan hikmat akal budi maupun atas pimpinan Roh kudus mampu menyaksikan maha karya Allah Bapa sebagai Karya penciptaan yang dahsyat. Lalu dengan gagah berani entah adanya kerelaan atau tidak mengerti mau menjadi pemberita Injil. Dalam kepasrahannya pada pimpinan Tuhan dan Roh kudus, hidup seakan nyaman nyaman saja untuk dilalui. Kalaupun ada pemberita Injil yang nakal dalam arti korup, selingkuh dan murtad pastilah hanya dikategorikan oknum yang tidak bisa digeneralisir sebagai kesalahan fatal. Kealpaan ini akan berujung pada kitab Matius 7 : 15 – 23. Dalam artian seakan kita sudah ada dijalur yang benar, padahal penolakan yang kita terima. Sekali lagi harus kita ingat bahwa tidak mungkin kita hanya mengutamakan yang satu tapi mengabaikan yang lain. Dua duanya harus seiring sejalan. Seimbang antara jasmani dan rohani, Idealnya kedua duanya ada dalam satu wadah yaitu gereja sebagai institusi. Sayangnya sekalipun institusi gereja seperti itu sudah ada atas prakarsa Petrus, kenyataannya cendrung diabaikan dan malah dilecehkan sebagai tidak rohani. Sementara mereka yang merasa rohani justru mendemonstrasikan arogansi dalam pemahaman yang sempit semata mata bergantung pada karunia dan berkat. Jadi Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, maka dikaruniakanNya AnakNya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya, jangan binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.Anda dan saya terpanggil untuk bekerja dan berkarya. Anda dan saya terpanggil untuk menjadi rekan sekerja Allah dalam mewujudkan kasih itu. Mendengar saja memang baik, demikian juga bila kita renungkan. Tapi yang terbaik dari semua itu adalah melakukannya dalam kehidupan kita sehari hari. Kasih Tuhan menyertai kita semua. Amin.

Pucung Bantul 29 Maret 2009

Hardo Jayadi Setiawan

Call sign : Musafir

Jangan Bodoh!!!!

Jangan bodoh!!!! Kalimat ini mungkin bernada penolakan, pemberontakan sekaligus pernyataan, bahwa saya dan anda atau siapapun yang membaca tulisan ini pastilah tidak suka jika disebut sebagai orang bodoh bahkan mereka yang temperamental dan emosional bisa marah. Yang setuju boleh angkat tangan, ha ha ha… terbiasa dengan gaya khotbahnya para hamba Tuhan dari gereja warna-warni atau persekutuannya dalam meyakinkan umatnya atau para hamba Tuhan itu sendiri tidak yakin dengan khotbahnya sehingga mengajak umatnya untuk menyerukan slogan agar sama-sama diyakinkan dengan pemahamannya. Jangan bodoh mungkin juga ingin meluruskan satu ayat dalam Alkitab yang berbunyi bagi dunia hal ini merupakan suatu kebodohan. Mungkin yang dimaksud dengan ayat tersebut seharusnya menjadi perhatian serius bagi umat Kristiani dalam hal ini para inelektual, tokoh tokoh dan rohaniwannya, bagaimana mengaktualisasikan, merealisasikan bahkan kalau perlu dijadikan proyek mercu suar dalam pelayanan sepanjang masa maupun menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari bagi umat Kristiani itu sendiri sebagai gambaran dan penjelasan bagi dunia bahwa pemahaman tentang Alkitab bukanlah sesuatu yang bodoh,melainkan suatu kebenaran yang didalamnya justru menunjukan bagaimana arti kehidupan dan bagaimana harus dijalani.

Tentang kebodohan, banyak umat Kristiani hanya berpangku tangan dan memahami Alkitab secara letter-lux sehingga predikat bodoh yang ada melekat kuat baik bagi umat Kristiani demikian juga dalam pandangan dunia. Hal ini sangat ironis karena jika ditelusuri dan ditelaah lebih mendalam pastilah sebutan bodoh itu tidak tepat malah kenyataannya justru bisa sebaliknya. Permasalahannya memang sejauhmana umat Kristiani itu sendiri mengimplementasikan isi Alkitab yang menjadi acuan dan pegangan dalam menjalani kehidupannya.

Dunia menganggap keKristenan sebagai kebodohan karena sebagian besar isi Alkitab terkesan seperti cerita-cerita science fiction yang sulit dibuktikan, demikian juga implementasinya dalam kehidupan nyata umat Kristiani terkesan klenik bahkan cendrung mengarah pada kegilaan ( maniak rohani ). Lihat saja visualisasi bahasa Roh, pengurapan doa-doa penyembuhan dan kebaktian kebangunan Rohani (KKR ), semuanya cendrung menggiring umatnya pada kegilaan.

Bersyukur bahwa sejak dari awal Firman Tuhan sudah menjelaskan tentang kebodohan ini, tetapi sekaligus juga memperingatkan umat yang percaya, agar jangan bodoh. Bagaimana Firman Tuhan “menjelaskan” sekaligus “mengingatkan”, “membelai” sekaligus “nempeleng” tentang kebodohan ini? Kalimat “menjelaskan” lebih mengacu bahwa sejak dari awal Allah tahu ( bahkan maha tahu ) bebalnya umat Kristiani, malasnya umat Kristiani dan bodohnya umat Kristiani yang kerjanya cuma percaya dan berharap/minta dalam mengimplementasikan Firman Tuhan. Allah memang mengajarkan tentang iman percaya dan berharap/minta kepadaNya, tetapi Firman Tuhan tidak hanya berisi iman percaya dan berharap/minta saja. Ada kata atau kalimat dalam Firman Tuhan yang justru menjadi referensi dan relevansinya dengan iman percaya dan berharap/meminta. Kata atau kalimat itu yalah : taklukanlah dan berkuasalah. Alih-alih untuk mengimplementasikan kalimat itu, umat Kristiani malah berdalih bahwa manusia itu terbatas kemampuannya dan kalau mampupun biasanya justru mengarah pada arogansi dan keangkuhan egoisme dan yang paling parah adalah murtad dan durhaka yang mereka sendiri sadari (mengartikan) sebagai penentangan akan kemahakuasaan Allah. Cobalah renungkan…apakah Allah memang senang jika umatnya disebut orang “bodoh” Lalu bagaimana penghayatan kita pada Firman Tuhan dalam Yoh 3:16? Kalau begitu besar kasih Allah akan dunia ini, itu berarti ada alasan kuat hingga Allah mengaruniakan AnakNya yang tunggal itu. Apakah sekedar untuk menyelamatkan umat yang percaya semata atau karena umat yang diciptakan Allah adalah serupa dan segambar dengan kehendak Allah itu sendiri? Itulah sebabnya seringkali Firman Tuhan disampaikan dalam bentuk perumpamaan pada masa pelayanan dan lawatan Yesus di dunia ini ribuan tahun yang lalu. Dan hanya orang yang berhikmat yang mampu mengartikan apa yang tersembunyi dalam seluruh FirmanNya. Cobalah renungkan seberapa banyak umat masih suka dalam kebutaan (rohani) hingga memerlukan jamaah Tuhan untuk mencelikannya. Seberapa banyak umat yang lumpuh (rohaninya) yang harus dijamah oleh kuasa Tuhan? Kalau dulu kusta merupakan ( diartikan ) kutukan, sekarang bahkan seorang lady Diana pun berani menghampiri mereka yang kusta untuk menyatakan kasih dan perhatiannya karena kusta bukan lagi sesuatu kutukan atau menakutkan.

Berapa banyak hamba Tuhan bebal yang ( merasa ) terpanggil dengan label ministrynya dan persekutuannya menggiring umatnya untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Padahal bahkan kunci kerajaan Sorga sudah diserahkan kepada manusia yang diwakili oleh Petrus di Kaesaria dua ribuan tahun yang lalu. Memang dikatakan dalam Firman Tuhan bahwa Dia akan datang kedua kalinya tapi mengenai waktunya hanya Allah yang tahu. Bukankah kalimat “jangan bodoh” menjadi peringatan untuk kita semua umatnya. agar tahu dimana kerajaan Allah yang ingin dituju. Firman Tuhan tidak pernah meminta kita membentuk ministry atau persekutuan karena memang persekutuan itu telah ada dan telah diserahkan pengelolaannya kepada manusia yang diwakili Petrus. Mandat lain yang telah diserahkan Allah kepada manusia yaitu Amanat agung dalam Matius 28:19-20. Allah tahu (bahkan maha tahu ) maka sejak awal telah dijelaskan tentang kebodohan umatNya tapi sekaligus Dia mengingatkan agar umatNya jangan bodoh. Percaya dan berharap/meminta hanya kepadaNya adalah batang tubuh (inspirasi) dari semua kegiatan dan karya umat manusia dalam menghayati, menjalani dan menyiasati kehidupan ini Dari sanalah Firman Tuhan menjadi berarti bagi kehidupan manusia dalam ucapan syukur dan puji-pujian semata karena Allah bertakhta diatas puji-pujian.

Bantul medio maret 2009

Hardo J Setiawan

Call sign : Anwari

Implementasi dari isi Alkitab

Implementasi dari membaca atau mendengar, merenungkan dan melakukan isi Alkitab dalam kehidupan sehari-hari adalah “taklukkanlah dunia” dan “berkuasalah” (Kejadian 1:28 ) Ini merupakan perintah atau mandate atau otoritas pertama yang datang dari pihak ALLAH kepada manusia. Kemudian Perintah atau mandate atau otoritas kedua yang diberikan ALLAH kepada manusia adalah Kasihilah TUHAN, ALLAHmu dan kasihilah sesamamu ( Mat 22 : 37-40 tentang hukum kasih ) Terakhir perintah atau mandate atau otoritas yang ALLAH berikan kepada manusia adalah keliling dunia, pemuridan, pentahbisan dan pengajaran ( Mat28 : 19-20 tentang Amanat Agung ) Ketiga mandate ini bersifat general dan universal berlaku untuk seluruh umat manusia tanpa kecuali. Pada bagian lain selain dari perintah atau mandate atau otoritas yang diberikan Allah kepada manusia, hampir seluruh isi Alkitab merupakan peristiwa atau kejadian yang dipaparkan sebagai gambaran baik buruknya sejarah kehidupan umat manusia dalam mengimplementasikan perintah atau mandate atau otoritas yang sudah ALLAH berikan kepada manusia.

Mengacu kepada perintah yang pertama, bagaimana perintah ini di-implementasi-kan dalam pemberitaan Firman Tuhan dan pekabaran Injil boleh jadi justru berwujud terbalik karena pemahaman Alkitab harus didasari dalam koridor Theologis, sehingga diluar koridor itu, dinilai cendrung bertentangan dengan esensi dan dogma Theologis itu sendiri.Barangkali terlupakan atau bahkan dilupakan bahwa perintah yang pertama ini ditujukan kepada manusia sebagai ciptaanNya yang diberi mandate dalam artian tidak terkotak-kotak sebagai Kristen non Kristen, Theology atau berbagai disiplin ilmu pengetahuan dan tidak dalam pemahaman rohani atau materi yang kasat mata.Apabila hal itu terjadi dan diformulasikan demikian maka yang pasti karakter dan hakekat manusia sebagai rekan sekerja ALLAH justru dibunuh dan terpasung sehingga tak berdaya dan tak mampu baik bekerja apalagi memberi buah.

Pemberitaan Firman Tuhan dan pekabaran Injil seyogyanya harus memahami perintah yang pertama dulu dan bahkan tahu dan mampu mengartikulasikan perintah ini dalam kehidupan sehari-hari ( sampai saat ini ilmu pengetahuan dan tekhnologi sudah banyak menjawab dan menjelaskan bagaimana hal-hal yang ajaib dan mujizat dalam Alkitab terjadi. Kalaupun masih ada yang belum dapat dijelaskan itu hanyalah masalah waktu untuk menjawab dan menjelaskan. Tapi ilmu pengetahuan sebagai mana doa dan iman hanyalah sarana dalam mengartikulasikan isi Alkitab. Baca mat 6:33 )barulah menjadi inspirasi dalam menerima perintah yang kedua sebagai Hukum Kasih. Perintah yang kedua berbunyi; “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akalbudimu. Tentang mengasihi Tuhan, itu berarti tidak cukup hanya dengan hati, tapi juga harus dengan jiwa bahkan yang tak boleh dilupakan adalah akalbudi. Kalau mengasihi Tuhan hanya sebatas hati, anda bisa bayangkan sendiri. Demikian juga jika hanya dengan jiwa. Atau mungkin anda hanya ingin menggunakan akalbudi, pastilah kasih anda kepada Tuhan tidak utuh alias terkotak-kotak. Apalagi jika kasih anda kepada Tuhan lalu harus berbuah mujizat dan berbagai-bagai karunia makin membuat pengertian tentang kasih menjadi terkontaminasi dengan keinginan daging semata. Wujud mengasihi Tuhan adalah dengan mengasihi sesamamu manusia. Sarana atau fasilitas untuk mengasihi sesama manusia adalah “taklukanlah dunia” dan “berkuasalah”. Jika pemahaman ini dapat diterima itu berarti : Perintah atau mandate atau otoritas yang pertama tujuannya adalah membentuk karakter dan sumber daya manusia yang kuat dalam memahami dan melaksanakan perintah atau mandate atau otoritas yang kedua. Artinya dari sudut pandang apapun juga dan dari disiplin ilmu apapun juga isi Alkitab dipahami dan diartikulasikan, tidak dapat dibantah kebenaran dan akurasinya. Isi Alkitab tidak hanya bicara soal rohani karena dari dalamnya juga dikupas masalah kebutuhan jasmani. Allah terlebih dahulu menciptakan langit dan bumi dan seluruh isinya barulah ALLAH menciptakan manusia untuk mengelola ciptaanNya.

Dengan pemahaman ini sesungguhnya juga ingin menjelaskan bagaimana dewasa ini pemberitaan Firman Tuhan dan pekabaran Injil sudah mengaburkan dan menggeser esensi dan dogma dari pengenalan, penghayatan dan penyembahan kepada ALLAH dalam YESUS serta Roh Kudus sebagai penolong pada mujizat dan berbagai-bagai karunia.yang lebih bermakna sarana.

Selanjutnya tidak dalam posisi menghakimi, jangan ada ilah lain dihadapanKu barangkali patut direnungkan jika pemberitaan Firman Tuhan dan pekabaran Injil lebih mengutamakan mujizat dan berbagai-bagai karunia, karena itu sudah berarti ilah lain dihadapan ALLAH. Tidak juga harus mengabaikan mujizat dan berbagai-bagai karunia bisa terjadi, karena yang terutama janganlah mujizat dan berbagai-bagai karunia menggeser esensi dan dogma dalam pengenalan, pemahaman dan penyembahan kepada ALLAH dalam YESUS serta Roh Kudus sebagai penolong, .Suka tidak suka ketika manusia jatuh dalam dosa, .dimulailah arti kehidupan yang sesungguhnya yang harus dijalani dan disiasati. Anda malas janganlah makan. Iman tanpa perbuatan hakekatnya adalah mati. Slogan dunia nampaknya lebih bijaksana; “berdoa dan bekerja”.

Jika kita mampu memahami perintah yang pertama sebagai pembentukan karakter dan sumber daya manusia dalam menaklukan dan menguasai dunia, maka dari sana seharusnya terbentuk satu visi dan misi yang jelas sebagaimana tertuang dalam hukum kasih. Banyak orang mendengar atau membaca Firman Tuhan, merenungkan dan melakukannya dalam kehidupan sehari-hari barangkali tidak dimulai seperti yang diuraikan diatas, dan memang sebagai umat tidaklah harus memulai pertobatannya seperti itu. Yang terutama adalah ketika kita atau siapapun juga yang merasa terpanggil untuk memberitakan Firman Tuhan atau pekabaran Injil hendaklah memahami akan isi Alkitab secara utuh agar tidak mudah diombang-ambingkan oleh berbagai-bagai pengajaran yang ujungnya justru menyesatkan.

Amanat Agung yang merupakan perintah atau mandate atau otoritas ketiga dari ALLAH menjadi bagian akhir dari lawatan ALLAH dalam YESUS di dunia yang harus dilakukan para pemberita dan pekabar Injil baik perorangan maupun institusi, tidaklah terlalu sulit untuk dijalani apabila pengetahuan dan kemauan mengacu kepada hal yang benar dalam isi Alkitab. Aku mengutus kamu seperti domba ketengah serigala. Oleh sebab itu hendaklah kamu tulus dan cerdik. Seringkali kita memang tulus namun tidak cerdik. Inilah sebuah realita dimana banyak orang merasa sudah melayani bahkan mengklaim diri sebagai hamba Tuhan dengan berbagai mujizat dan berbagai-bagai karunia dan dengan karunia itu lalu merasa lebih baik dari orang lain. Bahkan berani menghakimi baptisan air hanya sah kalau diselam. Adalagi yang mengklaim baptisan boleh berkali-kali. Belum lagi soal demonstrasi berbagai-bagai karunia dan bahasa Roh. Ketimbang memuliakan ALLAH justru menjadi batu sandungan yang membuat keKristenan terpecah-pecah. Kemana bahtera ini akan berlabuh. Hanya ALLAH yang tahu.

Dewasa ini pemahaman dan implementasi akan isi Alkitab tidak dapat hanya sebatas rohani dan Theologis semata, bahkan tidak boleh terjebak dalam dikotomi ini Alkitabyah, ini sekuler dan duniawi. Gereja hanya berfokus pada pemberitaan Firman Tuhan dan pekabaran Injil, Tetapi juga harus sekaligus menguasai dunia pendidikan dan kesehatan. Menguasai tekhnologi dan hasilnya. Tanpa keseimbangan itu maka keKristenan hanya seperti roh-roh yang gentayangan atau seperti robot-robot yang harus ditekan tombol on-ofnya baru bergerak.

Pucung Bantul 15 Agustus 2009

Hardo Jayadi Setiawan

Callsign;Anwari,Musa dan klana

Kajian ilmiah tentang bahasa ROH

Dikalangan umat Kristiani terutama mereka dari denominasi Pentakosta dan Kharismatik, bahasa Roh merupakan bagian integral dalam setiap persekutuan doa maupun ibadahnya. Seakan tanpa visualisasi bahasa Roh, persekutuan doa dan ibadahnya terkesan hambar dan tidak rohani. Jadilah pengalaman bahasa Roh sebagai dogma dari denominasi ini. Sampai-sampai jemaatnya tidak saja dibimbing untuk mengalami berbahasa Roh ( betul-betul karunia bahasa Roh ) melainkan juga bimbingan berbahasa Roh yang diajarkan semisal untuk bisa berbahasa Roh mulailah dengan bla…bla…bla… dan seterusnya ( yang ini sulit untuk bisa dipertanggung jawabkan apakah sungguh-sungguh karunia berbahasa roh atau rekayasa hamba Tuhan dan umatnya semata dan apa manfaatnya berbahasa Roh seperti ini. ) Hanya Tuhan yang tahu

Bagaimana bahasa Roh itu terjadi dan dalam situasi atau suasana apa terjadinya? Bahasa Roh itu terjadi adalah bergantung pada kejiwaan atau mental dan intelektual seseorang. Yang paling mungkin adalah ketika seseorang berada dalam tekanan kejiwaan atau mental. Tekanan itu bisa saja merupakan tekanan karena penderitaan atau bisa juga sukacita yang berlebihan. Kedua-duanya bisa memperngaruhi kesadaran atau logika dan daya nalar seseorang, Bisa juga karena kelelahan fisik akibat bekerja atau suatu kegiatan yang melelahkan secara fisik. Sedangkan situasi atau suasana terjadinya bahasa Roh hampir dapat dipastikan pada waktu memasuki sesi doa dalam peribadahan.

Perhatikan suasana doanya, selain dilakukan bersama namun masing-masing berdoa menurut kepentingannya sendiri kemudian dengan suara berguman, jadilah suasana doa seperti suara dengung ribuan lebah atau sebanyak umat yang ikut berdoa itu. Digambarkan sebagai suara lebah adalah untuk memudahkan penjelasan ini, Kalau kita mendengar dengung seekor lebah didekat telinga kita, terasa sangat mengganggu baik mengganggu pendengaran kita bukan karena volume suara dengungannya melainkan decibel atau equalizer yang tinggi intonasinya, juga mengganggu konsentrasi kita dan membuyarkannya. Semakin lama kita mendengar dengung lebah itu maka kesadaran, logika dan daya nalar kita terus berkurang dan berkurang hingga masuk kealam bawah sadar atau biasanya disebut pingsan atau semaput. Bayangkan jika dalam sesi doa ada sekian banyak orang yang ikut doa bersama dengan bergumam. Seperti itulah kesadaran, logika dan daya nalar kita terganggu. Contoh lain untuk menggambarkan suara. Adalah ibarat seember air yang permukaannya sangat tenang ( kesadaran, logika dan daya nalar kita )lalu kita menyentuhkan ( mengucapkan sebuah kata atau kalimat )jari telunjuk kita.ke permukaan air. Maka permukaan air dalam ember itu akan terlihat gelombang-gelombang kearah tepian ember ( gendang telinga )terus-menerus sampai daya dorong gelombang itu habis. Satu sentuhan jari telunjuk ke permukaan air bisa menimbulkan banyak gelombang, bayangkan kalau telunjuk itu adalah tinju kita atau buah kelapa, bukankah hebat gelombang yang ditimbulkannya. Sedangkan selaput gendang telinga kita lebih halus dari kulit bawang. Akibatnya kesadaran kita, logika dan daya nalar pastilah terganggu. Sampai disini kita ikuti cerita, bagaimana pada waktu pencurahan Roh kudus sesudah Yesus terangkat ke sorga. Waktu terjadinya diperingati sebagai hari Pentakosta ( hari ke lima puluh sejak Yesus bangkit ) Sesudah dalam waktu sekian lama bersembunyi dalam tekanan dikejar-kejar, bukankah pengikut-pengikutNya berada seperti penjelasan diatas baik jasmani maupun rohaninya. Pengalaman Bahasa Roh, lebih memperlihatkan ledakan emosi seperti tanggul situ gintung yang jebol. Apa yang ada dihadapannya diterjang dan dihanyutkannya. Orang yang terlalu lama dalam tekanan kemungkinan meledak dan pengaruhnya tergantung besar kecilnya frekwensi ledakannya. Dan orang yang sudah terbebas dari tekanan, bebas juga dari perasaan yang menekannya. Itu bisa mengubahnya menjadi pemberani, gembira dan bersemangat. Seperti itulah gambaran pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta dalam kajian secara ilmiah. Tak ada alasan kuat untuk mempercayai tulisan ini, namun tak ada alasan juga untuk menolaknya, karena sekalipun tidak sepenuhnya didukung data lab dan observasi. Tapi sebagai penjelasan awal amatlah menarik untuk direnungkan dan ditindaklanjuti. Orang yang mengalami bahasa Roh, sejauh ini selalu terjadi hanya sebatas persekutuan doa atau ibadah. Diluar itu amat sangat jarang dan tidak lazim terjadi apalagi pada saat seseorang kusyuk berdoa sendiri. Mungkin orang yang berdoa itu bisa terisak-isak karena terhanyut dalam perasaan dan makna doa yang dilafalkannya. Sesudahnya ada rasa kelegaan dan ketenangan. Sekalipun mungkin apa yang menjadi harapan dalam doa tidak serta merta dijawab.

Bahasa Roh dalam pengertian lain, semestinya dipahami sebagai karunia Allah dalam menyampaikan kehendakNya entah itu berkat atau peringatan Bukan suatu metode atau bagian ritual yang bisa diajarkan atau dapat diterapkan seperti menyanyi dan bermain musik misalnya. Barangkali kita boleh berdoa memohon agar dikaruniakan berbahasa Roh. Tetapi untuk apa memohon karunia berbahasa Roh, karena arti dari karunia ini hanya untuk menyampaikan kehendakNya baik itu sebagai berkat maupun peringatan. Dalam Alkitab dikatakan jika ada yang mendapat karunia berbahasa Roh, haruslah juga ada yang dikaruniakan untuk menterjemahkannya. Hal lain yang harus dipahami dan direnungkan. Mendapat karunia berbahasa Roh bukan berarti orang yang mengalaminya hidup suci dan kudus, tetapi hanya sebatas suatu ungkapan dari apa yang sudah kita alami baik suka atau duka. .

Dewasa ini jika kita perhatikan, pengalaman berbahasa Roh terkesan aneh dan menimbulkan kerancuan, apakah merupakan karunia dari Allah atau semata-mata merupakan bagian dari suatu rangkaian ibadah. Perhatikan dalam ritual ibadah terutama pada waktu berdoa, Tiba-tiba saja seseorang yang berdoa bisa memulainya dengan bahasa Roh, lalu kembali ke bahasa Indonesia itupun tidak dengan tata bahasa yang baik. Apa yang bisa kita simpulkan dengan fenomena ini? Apakah karena pemahaman tentang Allah yang maha kuasa dan maha tahu, lalu berdoa boleh dipanjatkan semau kita? Atau apakah dalam kehidupan bergereja sejauh hubungannya dengan peribadahan boleh dilakukan semaunya, dengan mengabaikan aturan-aturan yang baku? Kalau hal-hal yang utama dalam peribadahan bisa diambangkan sejalan dengan situasi yang berkembang, disana ada potensi Iblis mengambil bagian mengacaukannya. Maka tidak jarang juga justru pada puncak ritual ibadah, ada umat yang kerasukan roh jahat. Kesannya aneh… bagaimana dalam ritual ibadah yang mengutamakan dan meyakini akan peranan Roh kudus, si Iblis leluasa merasuk satu dua umat untuk menyatakan kehadirannya.

Karunia berbahasa Roh mungkin tidak sama dan sebangun dengan baptisan Roh, Tapi keduanya adalah satu Roh yang sama yaitu Roh Kudus. Banyak pengajaran yang menggiring umatnya untuk mengenal berbagai-bagai karunia Roh, Sejauh pengajaran itu mengerucut pada pemahaman akan Roh Kudus, memang demikianlah seharusnya. Tetapi ketika pemahaman itu lalu mengutamakan salah satu dari karunia Roh itu, maka menjadi pertanyaan besar, karena pemahaman akan Roh Kudus sudah bergeser hanya pada karunianya. Kalau saja baptisan air boleh diangkat menjadi acuan tentang peranan Roh Kudus, maka berbagai pengajaran dan bimbingannya akan mengurangi salah penafsiran dan pemahamannya karena ketika seseorang memutuskan menerima baptisan air baik selam maupun percik yang dipahami sebagai pengakuan Iman percaya yang juga bukan karena pengakuan manusia tapi adalah pimpinan roh kudus, saat itu pula sesungguhnya Roh kudus sudah mengambil tempat dalam Roh jiwa dan akal budi manusia. Perhatikan kalimat dalam sakramen Baptisan Air. Aku membaptis engkau dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin. Jadi sangat jelas dalam baptisan air telah menyatakan kehadiran Roh kudus pada waktu menerima baptisan air itu. Kalau kita masih memohon karunia Roh Kudus dengan bahsa Rohnya dan berbagai –bagai karunia Roh, secara tidak langsung mereka yang sudah menerima baptisan Air, telah mengingkari dan menyalahi pengakuan iman percayanya sendiri dan kalau sudah demikian, apa lagi yang harus kita katakan? Bukankah hal tentang Roh Kudus menjadi aneh dan rancu dalam peranan kehidupan umatnya. Apakah kalimat yang dibacakan sang pembaptis hanya slogan semata sehingga maknanya kehilangan arti dan penghayatan.

Karunia berbahasa Roh harus memberi dampak ketenangan, kebijakan, rasa syukur, penuh belas kasih dan rendah hati. Dalam pengertian ini, jika karunia berbahasa Roh senantiasa didemonstrasikan atau divisualisasikan dengan kalimat dan bahasa yang sama, oleh orang yang sama, sudah pasti bukan karunia berbahasa Roh, melainkan keangkuhan orang itu seakan dia hidup kudus dan berkenan kepada Allah. Dengan demikian berhati-hatilah memahami dan mengartikan karunia berbahasa Roh. Maksud hati memohon karunia berbahasa Roh yang merasuki justru roh Iblis. Barangsiapa berhikmat kiranya tahu apa yang baik dan benar. Kiranya Tuhan memberkati. Amin.

Pucung Bantul 16 April 2009

Hardo Jayadi Setiawan

Call Sign: Musafir

Garam dunia dan Terang dunia

Judul di atas adalah bagian Khotbah dibukit dalam Injil Matius yang menguraikan beberapa pokok pengajaran Yesus baik dalam kehidupan jasmani maupun rohani.Dimulai dengan perikop ucapan bahagia, judul di atas adalah perikop kedua sesudahnya. Kita kupas saja satu persatu dari judul di atas dimulai dengan garam dunia. Banyak hal tentang garam yang bisa kita bahas disini. Dalam banyak khotbah para hamba Tuhan tentang garam, selalu dihubungkan dengan makanan sebagai penyedap. Kalau kupasan Firman Tuhan ini hanya diartikan sebatas penyedap, mungkin saya adalah orang pertama yang akan pindah agama karena betapa menyedihkan umat Kristiani hanya ibarat penyedap makanan yang kalau penikmatnya sedang nyaman menikmati, toh bukan garamnya yang diceritakan tetapi kokinya, apalagi kalau makanannya tidak nyaman dinikmati, yah seperti Firman Tuhan katakan hanya akan dibuang dan diinjak – injak orang. Ini berarti bahwa Umat Tuhan tidak dalam posisi garam sebagai penyedap masakan semata, maka garam dalam Firman Tuhan ini pastilah punya makna lebih luas ketimbang garam sebagai penyedap masakan. Dalam tubuh manusia, garam memegang peranan penting sebagai penetrasi, pengatur dan penghantar energi kesemua organ tubuh. Kalau anda terluka, cobalah rasakan garam dalam kandungan darah. Demikian juga dengan keringat dan anda akan terkejut karena garam juga ada dalam sperma. Ini berarti Anda dan saya sebagai garam seyogyanya berperan aktif baik secara pribadi, keluarga dan masyarakat pada umumnya. Baik dalam institusi keluarga, gereja, lingkungan sekitar dan bahkan pemerintahan. Nah cobalah anda renungkan apakah anda dan saya sudah berperan sebagaimana fungsi garam yang ingin dikisahkan dalam Firman Tuhan. Pada bagian lain garam juga berfungsi sebagai penyubur, penguat dan pengikat bagi tanah dan tanaman, yang disebut hara. Demikianlah fungsi garam dengan peranannya bagi manusia dan alam.

Kenapa garam ditempatkan mendahului terang dunia dalam perikop ini. Apakah ini hanya karena tata bahasa atau ada makna lain yang ingin disampaikan dalam perikop ini? Kita kupas saja bagian keduanya yaitu terang dunia. Terang dunia dalam perikop ini diilustrasikan dengan sebuah kota diatas gunung yang tidak mungkin tersembunyi dari penglihatan baik nampak jelas maupun samar – samar. Hal ini harusnya lebih diartikan sebagai peranan kita dalam uraian tentang garam tadi. Apakah peranan kita pribadi keluarga maupun ditengah masyarakat atau dalam berbagai institusi sudah nampak atau tidak dapat tersembunyi? Pengertian tentang terang dunia ini mau tidak mau haruslah menampakan kebaikan dan kebenaran sehubungan dengan makna yang ingin disampaikan Yesus melalui pengajaran dan lawatanNya di dunia ini. Ilustrasi yang kedua adalah dian. Kita tahu dian adalah lentera atau lilin atau lampu yang apabila dinyalakan barulah menerangi sekelilingnya. Dian haruslah dinyalakan agar berfungsi untuk menerangkan. Dalam hal ini Dian adalah sumber dari segala sesuatu yang diketahui dan yang ingin diketahui oleh kita manusia. Oleh sebab itu harus diberitakan, harus diaktualisasikan dan harus memberi manfaat dalam pencerdasan dan pencerahan bagi umat manusia tentunya.

Kita tidak mungkin menjadi terang dunia apabila kita belum menjadi garam dunia. Tapi kita sudah menjadi bagian terang dunia apabila kita sudah menjadi garam dunia. Janganlah kita hanya menjadi pembawa berita semata karena seharusnya kita menjadi pelaku. Oleh sebab itu garam dunia ditempatkan pertama barulah terang dunia kemudiannya. Dewasa ini pemberitaan Firman Tuhan terasa begitu sensasional karena tidak hanya sebatas kegiatan ibadah yang diadakan di gereja gereja,tetapi bahkan sudah merambah ke hotel-hotel, restoran-restoran, mall-mall, perumahan-perumahan, tempat-tempat terbuka dan stadion- stadion olahraga. Sulit untuk mengartikan pemberitaan Firman Tuhan ini sebatas kegiatan kerohanian semata atau gejala apakah dari kegiatan ini, Sekiranya memang ada kerinduan dan kehausan dari umat atau jemaat untuk merenungkan Firman Tuhan, apakah gereja yang ada tidak mengerti dan tidak mampu untuk menyelenggarakan ibadah sesuai dengan tujuan dan kebutuhan jemaatnya. Atau karena gamang dan merasa mampu untuk menyelenggarakan ibadah sesuai keinginan kelompoknya semata, maka pemberitaan Firman Tuhan terkesan sensasional seakan ada pertumbuhan dan semangat baru dalam perkembangannya. Wallahu Alam. Yang pasti gereja sebagai institusi terkesan berantakan di obrak-abrik oleh mereka yang merasa terpanggil mengembangkan pelayanan pemberitaan Injil ini. Jangan sekali-kali anda menuding karena mereka akan merasa dihakimi, dan sejumlah ayat Firman Tuhan mereka jadikan senjata untuk membela apa yang mereka anggap benar. Diluar sana, kalau kita mau jadikan tolok ukur sebagai pembanding atas kegiatan pemberitaan Injil ini, apakah dunia makin baik, adakah kesadaran yang mengarah pada pertobatan dan menata hidup kearah yang lebih baik dan beradab atau justru membuat jurang pemisah makin lebar dan tak terjembatani sehingga menciptakan sekelompok society yang hidup seperti diabad-abad permulaan. Hidup hanya mengandalkan kasih karunia, padahal yang Allah berikan adalah mandat agar mengelola dan menaklukkan dunia ini. Bagaimana sementara umat diarahkan untuk tidak berfikir duniawi dan mengejarnya, namun hampir semua produk dunia memenuhi tidak hanya dalam keluarga-keluarga tapi bahkan sudah merambah sampai kerumah-rumah ibadah.Dunia yang seharusnya menjadi ladang garapan justru diabaikan hanya untuk kepentingan pemahaman orang-orang frustrasi yang menamakan dirinya Hamba Tuhan dan menggiring jemaatnya yang awam dan mudah dipengaruhi kea rah kegilaan dengan ritual-ritual ibadahnya. Kalau sungguh-sungguh punya kerinduan dan kehausan akan Firman Tuhan, mengapa justru institusi gereja yang ada diobrak-abrik hanya untuk pemahaman sempit sehingga banyak tumbuh persekutuan-persekutuan dengan menggunakan label ministry. Alih-alih untuk mengucap syukur dan memuliakan nama Tuhan, gejala ini sudah akan mendatangkan murka Allah karena orientasinya hanya mengejar mujizat dan kesuksesan dengan theology kemakmurannya. Benarlah apa yang disindirkan GusDus tentang keKristenan bahwa kegiatan umat Kristen jangan dilarang atau dipersulit, karena mereka akan ribut sendiri dengan perselisihan dan pertentangan diantara mereka. Bahwa sesungguhnya keKristenan harus membawa pencerahan dan kecerdasan agar menjadi penerang dalam pemberitaan Injil yang diemban sebagai amanat agung. Menghadirkan kerajaan Allah dan damai sejahtera tidak hanya bagi umat yang mengaku percaya, melainkan bagi seluruh umat manusia ciptaanNya. Tak ada alasan untuk memilah-milah Kristen non Kristen dihadapan Allah. Yang ada sudahkah kita melakukan kehendak Bapa di Sorga atau kita memperkosanya hanya untuk kepentingan dan kemauan kita sendiri. Kiranya perikop tentang Garam dunia dan terang dunia membuka wawasan dan pola pikir kita dalam mengaktualisasi diri, keluarga, gereja, lingkungan sampai pada pemerintahan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pucung, Bantul 7 April 2009

Dalam kepastian ada ketidak-pastian

Berapa banyak doa yang harus menantikan jawaban Tuhan? Berapa banyak Firman Tuhan yang menanti penggenapanNya? Berapa banyak umat Kristiani yang harus menanti pencerahan dan pencerdasan dalam iman percaya dan pengharapannya kepada Tuhan? Setiap kali Firman Tuhan disampaikan, hal doa senantiasa dipastikan ada jawaban dari Tuhan. Setiap Firman Tuhan pasti digenapi dan setiap orang yang beriman dalam pengharapan kepada Tuhan pasti dicerahkan dan dicerdaskan. Ada doa yang dijawab seketika tapi ada juga doa yang sampai pendoanya meninggal dunia doa itu hanya tinggal doa. Banyak Firman Tuhan sudah digenapi tapi masih banyak pula yang menjadi penantian. Demikian juga setiap orang yang beriman dan berpengharapan kepada Tuhan, Ada yang seketika mendapat pencerahan dan pencerdasan tapi berapa banyak yang tinggal dalam keprihatinan dan kebodohan.

Prolog di atas adalah gambaran yang seharusnya mendapat perhatian dari mereka yang mengaku hamba Tuhan, Penginjil dan Pengkhotbah bahwa “Dalam kepastian ada ketidak-pastian” karena apa yang pasti adalah hak dan otoritas Tuhan semata yang tak dapat diintervensi oleh apa dan siapapun juga. Dan ketidak-pastian itu adalah bagian dari manusia. Tak ada yang salah dengan orang yang berdoa, baik doa ucapan syukur, permohonan maupun berbagai – bagai doa yang dipanjatkan karena doa sudah menjadi nafas hidup bagi orang percaya. Dalam Alkitab tentang doa hanya diajarkan doa Bapa kami. Selebihnya adalah konsekwensi hubungan timbal balik antara manusia dengan Tuhan. Sekiranya Aku didalam kamu dan kamu didalam Aku, mintalah… Hal ini harus dipahami sebagai interaktif dalam semua sisi kehidupan dan tidak dalam pengertian doa permohonan. Contoh sederhana sebagai ilustrasinya. Adalah seorang tuan yang ingin mendirikan rumah. Dia memanggil tukang bangunan untuk mewujudkan keinginannya sambil menyediakan atau membeli bahan bangunan yang diperlukan. Sesudah disepakati tukang bangunan itu mulai mengerjakannya. Disana sini masih ada kekurangan seperti paku atau semen yang habis misalnya. Bukankah tukang bangunan itu akan meminta kepada tuan yang empunya rumah agar disediakan atau dibelikan paku dan semen yang sudah habis itu. Dan pastilah tuan yang empunya rumah itu membelikannya. Tapi apakah tuan rumah itu akan menyediakan atau membelikan sekiranya tukang bangunan itu minta mobil atau pesawat terbang? Tuan yang empunya rumah itu tidak akan dan tidak pernah mengabulkan permintaan tukang bangunan itu bukan? Doa adalah bagian dari manusia tetapi pengabulannya adalah bagian atau hak Tuhan. Jadi yang harus disadari adalah diluar rencana dan kehendak Tuhan jangan berharap doa akan dikabulkan Dalam Alkitab ada juga perikop tentang pengabulan doa. Dimulai dengan kata mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.Apakah perikop pengabulan doa ini hanya sekian saja. Kalau kita lanjutkan ayat-ayat dalam perikop ini sebagaimana telah dijelaskan tadi, merupakan interaktif dalam perspektif kehendak Allah. Dikatakan minta roti tidak mungkin diberi batu, berarti kalau kita minta roti pastilah karena kita lapar dan roti yang kita minta itu untuk dimakan sebagai hal-hal alami yang harus dipenuhi baik dalam kehendak Tuhan maupun sebagai keinginan daging. Dalam hal roti yang kita mintapun sebenarnya kita harus mencari kemudian pengertian tentang ketuklah lebih dimaksudkan bertanya, disana barulah akan dijelaskan ( dibukakan ). Kalau perikop ini mau dan hanya diartikan secara letter lux, hampir dapat dipastikan orang yang mengartikannya manja dan kekanak-kanakan. Karena hanya yang manja dan kekanak-kanakan yang permintaannya harus selalu dipenuhi. Berapa banyak hamba Tuhan, Penginjil dan Pengkhotbah yang sampai hari ini masih mengajarkan bahwa setiap doa pasti dikabulkan, apapun permohonannya. Kalau belum dikabulkan pastilah ada dosa yang menghambatnya. Lalu dicari ayat-ayat pendukungnya. Apakah seperti itu firman Tuhan tentang doa harus diartikan? Buat saya pemahaman seperti itu bukan saja pelecehan terhadap Firman Tuhan tapi bahkan sudah memperkosanya. Dengan alasan apapun kita berdoa haruslah didasari pada kehendak Tuhan dan bukan kehendak kita. Pernahkah kita bertanya sekiranya kita sakit? Apa rencana dan kehendak Tuhan atas kita? Bukankah hal itu yang menimpa atas Ayub? Tidakkah kita belajar dari pengalaman Ayub. Pernahkah kita bertanya kenapa kita miskin? Adakah kemiskinan itu rencana dan kehendak Tuhan atas kita? Atau sudahkah kita berusaha agar hidup kaya dan sejahtera sementara kita bedoa memohon pertolonganNya? Percaya dan berharap kepada Tuhan adalah bagian dari kehidupan umat Kristiani, Namun seringkali hidup kita tidak dalam cakrawala kasih dan kehendak Tuhan. Kita lebih suka hidup bedasarkan apa yang kita inginkan. Itu sebabnya kita menolak sakit penyakit, kemiskinan dan berbagai penderitaan karena ulah kita sendiri. Pernahkah kita memahami apa yang Tuhan kehendaki dalam kita menjalani kehidupan ini? Baik dalam suka maupun duka. Baik dalam kelimpahan maupun kekurangan, baik dalam kesesakan maupun dalam kelegaan. Janganlah kita memaksakan apa yang Yesus perbuat pada masa hidupNya dalam tiga tahun pelayananNya harus terjadi setiap waktu hingga saat ini seperti yang kita inginkan. Kalau kita sadari dan pahami bahwa sesungguhnya Allah telah memberikan kuasa pada kita atas semua persoalan yang kita hadapi, maka seharusnya kita mampu mengatasi pesoalan kita. Jadilah dokter untuk kesehatan kita sendiri. Jadilah banker untuk keuangan dan investasi harta kita. Jadilah sosiolog untuk kesejahteraan hidup kita. Lalu pandanglah Allah dalam penyembahan dan ucapan syukur karena Dialah yang menganugerahkan semua kemampuan kita dan mengizinkan hal yang baik dan buruk kita alami. Bukankah apa yang kita alami adalah agar nama Tuhan dimuliakan? Barangkali kita salah menempatkan diri sebagai hamba dihadapan Allah sehingga segala sesuatu harus terjadi seturut kehendak Allah. Tapi tak ada alasan bagi Tuhan untuk menuruti kehendak kita sekalipun kita adalah rekan sekerja Allah bahkan sebagai anak Allah sekalipun. Dua ribuan tahun sudah Firman Tuhan diberitakan dan diaktualisasikan, tapi mengapa umat Kristiani masih manja dan kekanak-kanakkan dengan berharap pada hal-hal yang luar biasa, mujizat dan keajaiban Jadikanlah segala sesuatu sebagai kepastian dengan kuasa yang Tuhan sudah anugerahkan kepada umatNya dan biarlah ketidak-pastian hanya jadi bagian dari mereka yang malas dan bodoh. Kiranya Tuhan memberkati kita sekalian dalam anugerah kasih karuniaNya. AMin

Pucung Bantul 5 April 2009

Hardo J Setiawan

Call Sign : Anwari

Cengeng dan kekanak – kanakan

Dewasa ini aktifitas dan pertumbuhan gereja dan persekutuannya terasa dan terkesan sumringah dan ramai karena disadari atau tidak, menjamur dan merebak hingga ke pusat – pusat perbelanjaan, belum lagi yang diselenggarakan di Hotel – hotel, di restoran – restoran, di perumahan – perumahan hingga ke tempat – tempat terbuka dan gelanggang olah raga. Hebatnya para orator ( hamba Tuhan ), perangkat pendukung dalam artian song leader, singer, MCnya dan alat – alat musiknya atau kerinduan untuk beribadah yang kuat sehingga tidak cukup lagi hanya sekedar beribadah di gedung gereja yang ada atau gejala apakah dari aktifitas dan pertumbuhan gereja maupun persekutuannya? Alih alih untuk meningkatkan kualitas kerohanian, nampaknya justru kegilaan dan kekacauan yang ditimbulkannya. Lihat saja kita tak bisa lagi membedakan mana gereja dan mana pusat kegiatan sekuler, apakah itu resto, hotel atau mall dan GOR. Satu kata saja untuk kenyataan ini, kalau tidak “gila” ya “kacau”. Tidak percaya? Masuklah dan ikuti ritual ibadahnya. Dimulai dengan doa yang etis dengan tata bahasa yang baik bercampur dengan teriakan - teriakan yang mereka klaim sebagai berbahasa Roh. Demikian juga masuk dalam sesi puji – pujian yang dilantunkan bercampur dengan hingar binger perangkat musik electrik tepuk tangan dan MC yang berteriak teriak menyemangati dan menambah kebisingan suasana ibadah. Lanjut pada sesi pemberitaan Firman Tuhan. Hampir dapat dipastikan dari kitab, pasal dan ayat manapun Firman Tuhan dikutip pastilah bermuara pada pengalaman berbagai bagai karunia terutama mujizat – mujizat. Lengkaplah sudah jika ritual ibadah itu diakhiri dengan pencurahan Roh Kudus, Urapan dan berbagai demonstrasi mujizat entah itu penyembuhan sakit penyakit pengusiran roh jahat dan berbagai problem kehidupan jemaat yang menghadiri ritual ibadah ini.

Sekiranya kita masih penasaran dan mau tahu lebih banyak tentang aktifitas ini, maka kita akan makin terkejut, Dimulai dengan Existensi dan legalitas keberadaan aktifitas dan pertumbuhannya. Bagaimana organisasi dan kepengurusannya menambah panjang kekacauan dari aktifitas dan pertumbuhannya. Keanggotaan menjadi tidak penting lagi, karena anda boleh datang mengikuti aktifitas ini, atau anda boleh kemana saja yang anda suka seturut dengan aktifitas dan pertumbuhannya. Tidak ada yang harus dipertanggung jawabkan karena semua bermuara pada hubungan pribadi dengan Tuhannya. Demikianlah sekelumit uraian tentang aktifitas dan pertumbuhan dari mereka yang mengklaim sebagai kegiatan Gerejawi maupun Persekutuan Rohani. Aktifitas dan pertumbuhan ini seharusnya menghantar umat atau jemaatnya pada kualitas atau tingkat kedewasaan yang lebih baik. Hidup menjadi lebih berarti baik untuk diri sendiri, keluarga kelompok dan masyarakat pada umumnya dalam kerukunan dan ketertiban. Saling mengasihi dan menghormati. Dan menyongsong masa depan yang penuh tantangan dengan berharap pada Tuhan sambil menggunakan segenap kemampuan dan pengetahuan yang ada. Mengutamakan yang satu tapi mengabaikan yang lain, sama saja seperti ingin menggambar salib namun semuanya hanya garis vertical saja atau hanya garis horizaontal saja. Hidup harus disiasati dan bukan sekedar pasrah, karena itulah manusia dilahirkan ke bumi, tidak hanya menjalani tapi mengolah dan mengusahakannya agar dari sana manusia mampu mencukupi kebutuhanya sendiri keluarga dan orang lain. Jika Yesus memberi makan lima ribu orang dan berkelebihan sampai dua belas bakul roti, seharusnya itulah yang menjadi tugas kita umat yang mengaku percaya dalam mencukupi kebutuhan makan minimal untuk diri sendiri dan syukurlah kalau bisa untuk mencukupi

banyak orang. Demikian juga Yesus yang menyembuhkan banyak penyakit dalam masa pelayananNya seharusnya menjadi tugas dan tanggungjawab bagi kita yang mengaku percaya dalam menyehatkan diri kita sendiri, keluarga dan masyarakat pada umumnya dengan menguasai dunia kesehatan dan kedokteran misalnya. Dan bukan dengan mendemonstrasikan hal-hal yang bersifat supranatural sekalipun hal itu bukan sesuatu yang salah dan mustahil untuk diaktualisasikan. Hendaklah kita sadar bahwa kepada kita telah diberi kuasa bukan untuk mendemonstrasikan tapi mengaktualisasikan dalam kehidupan yang nyata dan real. Yang harus bisa dipertanggungjawabkan dan bisa kita wariskan kepada siapapun sebagai ilmu pengetahuan. Kesannya menjadi aneh jika kita hanya sekedar percaya dan berharap saja. Bahkan keadaan seperti itu hanya menunjukan bahwa umat yang mengaku percaya itu malas dan bodoh sehingga tak ada yang bisa dan mampu dilakukan. Justru dunia mampu membuktikan kebenaran akan isi Alkitab tanpa terbantahkan dan semua itu sangat realistis dan bukan sesuatu yang luar biasa, mujizat dan keajaiban. Mengaku percaya dan berharap hanya kepada Tuhan, pastilah benar dan Alkitabiyah. Bagaimana kita mempertanggung-jawabkan kehidupan yang kita jalani ini dihadapan Tuhan pada waktunya nanti, seandainya kita hanya percaya dan berharap semata. Lalu apakah kehidupan seperti ini yang menjadi idaman umat yang mengaku percaya? Kita memang tidak seharusnya mengejar hal-hal duniawi tetapi seharusnya kita berkuasa atasnya.agar tidak menjadi duri dalam daging yang senantiasa membuat kita berkanjang dalam dosa pikiran. Kita hanya menjadi manusia manusia munafik yang mengharamkan kebendaan namun semua kebendaan itu justru telah merambah dan masuk bahkan sampai kerumah Tuhan. Kemana-mana kita pergi dengan menggunakan fasilitas kebendaan yang kita haramkan. Apapun juga yang kita saksikan, pelajari dan nikmati adalah dari fasilitas kebendaan yang kita haramkan, Tak ada yang salah jika semua itu ada dalam kekuasaan kita dan bukan dalam penyembahan dan pemujaan kita. Janganlah kita menjadi umat yang mengaku percaya kepada Tuhan, bahkan dengan siang malam merenungkan FirmanNya, setiap waktu berdoa dan berpuasa tapi tak ada yang mampu kita lakukan baik bagi diri sendiri apalagi bagi hajat hidup orang banyak. Janganlah jadikan isi Alkitab sebagai sesuatu yang nun jauh disana, yang hanya dapat kita pahami sebatas kerohanian. Percayalah kepada Tuhan dan isi Alkitab justrru saat kita hidup bukan sesudah mati sebagaimana hukum kasih itu, yaitu dengan segenap hati,jiwa dan akalbudi. Tak mungkin kita hanya percaya dengan hati dan jiwa ( kerohanian ) tetapi juga dengan akalbudi ( kesadaran dan intelektualitas ) Kalau Allah begitu mengasihi isi dunia ( manusia ), mengapa manusia tidak mengenal dirinya sendiri yang dikasihiNya? Pada waktunya nanti Dia datang kali kedua tidak lagi sebagai bayi dalam palungan, tidak lagi harus mengungsi dan tidak lagi harus menjalani penyaliban. Karena Dia datang sebagai Raja, sebagai Hakim, sebagai Tuhan yang akan menjemput umatNya yang setia dan melakukan kehendakNya. Mereka yang cengeng dan kekanak-kanakan, akan diusirnya seperti yang tertulis dalam Matius 7 : 15 – 23. Jadi selagi masih ada waktu hendaklah kamu bertumbuh menjadi dewasa dan sadarilah apa yang seharusnya engkau lakukan seturut dengan kehendakNya saja dan bukan apa yang kita kehendaki. Kiranya kasih Tuhan menyertai kita. AMin

Pucung Bantul 5 April 2009