17 April 2009

Bagaimana ALKITAB harus di-implementasikan

Kepada siapakah pertanyaan ini harus diajukan? Mengapa pertanyaan ini harus diajukan? Dan siapakah yang akan merasakan manfaatnya dengan kupasan tentang pertanyaan ini?

Kalau saja Alkitab boleh dibaca dan diartikan oleh semua orang dengan berbagai latar belakang pengalaman kerohanian maupun berbagai disiplin ilmu pengetahuan, baik laki-laki atau perempuan, tua-muda, besar-kecil dan siapa saja tak terkecuali, pastilah Alkitab akan menjadi buku yang paling controversial apalagi jika hanya dalam bimbingan pakar theolog..

Salah satu denominasi gereja mainstream, jemaatnya malah jarang membaca Alkitab, tetapi toh punya jemaat dan jaringan hirarky structural dan management yang diakui paling baik di dunia. Dikalangan umat Kristiani sendiri gereja mainstream ini tidak menjadi patron dalam ritual ibadah maupun managerialnya.. Mengapa gereja mainstream ini jemaatnya jarang membaca Alkitab? Pastilah ada alasan kuat yang menyebabkannya. Alkitab adalah sebuah buku yang didalamnya berisi cerita-cerita tentang sejarah, sastra dan secara implisit terdapat ilmu pengetahuan dan banyak peristiwa yang butuh penjelasan dan pembuktian sebagai penggenapan. Bagi jemaat awam sudah pasti tidak mudah untuk memahami dan mengartikannya karena tergantung sejauhmana pengetahuan dan intelektual dari pembacanya. Beberapa penjelasan tentang membaca Alkitab selalu dan pastilah harus dipahami dalam sudut pandang Theologi, pimpinan Roh Kudus dan iman percaya dari pembacanya. Diluar itu Alkitab cendrung disalah-artikan dan disalah-tafsirkan. Itulah sebabnya mungkin gereja mainstream ini jemaatnya jarang membaca Alkitab karena setiap kali Alkitab dibacakan sebaiknya juga mampu diterjemahkan dan dimengerti oleh pembacanya. Maka umat dari gereja mainstream ini jarang membaca Alkitab tetapi lebih suka membaca dan mendengar kupasannya justru pada setiap ibadah atau misa yang diadakan beberapa kali dihari Minggu dan satu dua kali dihari biasa..Setiap penyelenggaraan ibadahnya menjadi ramai dihadiri jemaatnya Sementara itu banyak juga gereja-gereja dan persekutuan rohani justru mengimbau agar jemaatnya membaca Alkitab. Kalau perlu dengan merenungkannya siang dan malam. Bahkan apapun yang dilakukan dalam keseharian renungkanlah apa yang Tuhan (Alkitab) kehendaki agar tidak jatuh dalam dosa. Yang terlupakan dari para hamba Tuhan yang menghimbau untuk membaca Alkitab, apakah umatnya mampu mengerti dan mengartikan apa yang dibacanya? Dalam perjalanannya gereja mainstream cendrung bisa menerima perubahan yang terjadi ditengah umatnya maupun banyak hal yang terjadi ditengah masyarakat pada umumnya sebagai masukan dan bahan penelitian kemudian mengadopsi apa yang baik dan menyingkirkan atau menolak hal-hal yang buruk. Sementara gereja-gereja dan persekutuan rohani yang menjamur dewasa ini justru cendrung untuk menolak segala sesuatu diluar pemahaman dan dogma mereka. Keadaan ini memperlihatkan perbedaan yang tajam antara gereja mainstream dan gereja gereja warna-warni yang muncul belakangan ini justru dalam mengembangkan pemahaman Alkitab. Gereja mainstream punya pola pelayanan dan pengembangan yang diatur dan dikendalikan dari Roma termasuk didalam mengimplementasikan Alkitab, sementara gereja warni-warni cendrung memvisualisasikan isi Alkitab, seperti pengalaman bahasa Roh, kuasa-kuasa penyembuhan dan berbagai mujizat lalu penerapan urapan dan pengusiran kuasa-kuasa kegelapan Yang lain gereja warna-warni ini mudah pecah.. Perbedaan orientasi dan implementasi terhadap Alkitab juga memperlihatkan bahwa gereja mainstream lebih mengerucut pada pencerahan atau pencerdasan terhadap jemaat atau umatnya dalam perspektif iman percaya kepada Allah, hakekat manusia dan tujuan yang harus dicapai sementara gereja warna-warni cendrung menghantar jemaat atau umatnya untuk sepenuhnya berpegang pada kasih karunia Allah semata dengan mematikan kedagingan dan menjauhi hal-hal duniawi seakan esok kiamat. Kedatangan Yesus kali kedua seakan membawa pedang yang akan menghukum pancung umatnya yang kedapatan tidur atau mabuk dan jauh dari kekudusan.Kurang dihayatinya Alkitab secara gamblang yang menggambarkan ada suka-duka, ada kaya-miskin, ada kesesakan-kelegaan. Hidup tidak melulu suka kaya dan kelegaan namun Dia janjikan akan menyertai dan memberi kekuatan pada umatNya baik dalam suka maupun duka, baik pada waktu kaya maupun miskin dan pada waktu kesesakan maupun kelegaan. Itulah sebabnya gereja warna-warni mengutamakan mujizat dan berbagai kuasa didemonstrasikan dan divisualisasikan seakan percaya kepada Yesus hanya sukacita semata, hanya kaya semata dan hanya kelegaan semata. Seakan jika umat dalam duka berarti ada dosa atau salah yang belum disucikan, seakan umat dalam kemiskinan adalah terkutuk demikian juga dengan kesesakan. Dua pandangan antara gereja mainstream dan gereja warna-warni memperlihatkan perbedaan yang tajam dan menggambarkan kemana sebenarnya umat atau jemaat ini digembalakan. Kepadang rumput yang hijau atau kepadang belantara yang tandus, kering kerontang sehingga Musa harus memukulkan tongkatnya kebatu agar mengeluarkan air sekedar untuk memuaskan kehausan dan kelaparan sesaat umat gembalaannya.

Setiap orang tak terkecuali boleh saja membaca Alkitab dan tak ada batasan apakah harus dari kacamata Theologi, pimpinan roh Kudus atau iman percaya karena yang terpenting dalam membaca Alkitab adalah apakah pembacanya mendapat pencerahan, pencerdasan, pertobatan dalam implementasinya atau hanya sekedar menjadi badut-badut rohani yang senantiasa menuntut Allah dalam Yesus untuk memuaskan keinginan daging dengan membebaskannya dari sakit-penyakit, dari kemiskinan dan dari kesesakan semata. Bukankah membaca dan menghayati Alkitab mendorong pembacanya untuk mengucap syukur, menyembah dan berharap hanya kepada sang Khalik dengan mengambil peran nyata dalam kehidupan ini dengan bekerja dan memberi makna dari dalamnya. Dunia berkembang pesat dengan ilmu pengetahuan dan tekhnologinya padahal mereka hanya mengutip apa yang terdapat dalam Alkitab. Sementara umat yang menjadikan Alkitab sebagai kitab dan pegangan dalam kehidupannya justru terpaku dan terheran-heran bagaimana semua isi Alkitab itu terjadi kecuali dengan satu keyakinan yaitu iman percaya.Lalu dalam ketidak-mengertiannya justru mendemontrasikan dan memvisualisasikan sebagai bahasa Roh, mujizat dan urapan2. Mana lebih penting; aktualisasi atau visualisasi. Anda dan saya yang harus menjawabnya. Dalam Alkitab hanya dikatakan; satu iotapun tak akan dihapus sebelum isi Alkitab digenapi. Apa yang sudah digenapi dan bagaimana penggenapannya. Apa yang belum digenapi dan sejuahmana peranan manusia yang membacanya. Sesudah semuanya digenapi barulah Yesus akan datang kali kedua dalam kemuliaanNya untuk menjemput umatnya yang melakukan kehendakNya (bukan memvisualisasikannya). Kiranya pembaca mau menjadi bagian penggenapan akan isi Alkitab dan Tuhan bertahta diatasnya. Amin.

Pucung, Bantul 10 April 2009.

Jangan Bodoh!

Jangan bodoh!!!! Kalimat ini mungkin bernada penolakan, pemberontakan sekaligus pernyataan, bahwa saya dan anda atau siapapun yang membaca tulisan ini pastilah tidak suka jika disebut sebagai orang bodoh bahkan mereka yang temperamental dan emosional bisa marah. Yang setuju boleh angkat tangan, ha ha ha… terbiasa dengan gaya khotbahnya para hamba Tuhan dari gereja warna-warni atau persekutuannya dalam meyakinkan umatnya atau para hamba Tuhan itu sendiri tidak yakin dengan khotbahnya sehingga mengajak umatnya untuk menyerukan slogan agar sama-sama diyakinkan dengan pemahamannya. Jangan bodoh mungkin juga ingin meluruskan satu ayat dalam Alkitab yang berbunyi bagi dunia hal ini merupakan suatu kebodohan. Mungkin yang dimaksud dengan ayat tersebut seharusnya menjadi perhatian serius bagi umat Kristiani dalam hal ini para inelektual, tokoh tokoh dan rohaniwannya, bagaimana mengaktualisasikan, merealisasikan bahkan kalau perlu dijadikan proyek mercu suar dalam pelayanan sepanjang masa maupun menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari bagi umat Kristiani itu sendiri sebagai gambaran dan penjelasan bagi dunia bahwa pemahaman tentang Alkitab bukanlah sesuatu yang bodoh,melainkan suatu kebenaran yang didalamnya justru menunjukan bagaimana arti kehidupan dan bagaimana harus dijalani.

Tentang kebodohan, banyak umat Kristiani hanya berpangku tangan dan memahami Alkitab secara letter-lux sehingga predikat bodoh yang ada melekat kuat baik bagi umat Kristiani demikian juga dalam pandangan dunia. Hal ini sangat ironis karena jika ditelusuri dan ditelaah lebih mendalam pastilah sebutan bodoh itu tidak tepat malah kenyataannya justru bisa sebaliknya. Permasalahannya memang sejauhmana umat Kristiani itu sendiri mengimplementasikan isi Alkitab yang menjadi acuan dan pegangan dalam menjalani kehidupannya.

Dunia menganggap keKristenan sebagai kebodohan karena sebagian besar isi Alkitab terkesan seperti cerita-cerita science fiction yang sulit dibuktikan, demikian juga implementasinya dalam kehidupan nyata umat Kristiani terkesan klenik bahkan cendrung mengarah pada kegilaan ( maniak rohani ). Lihat saja visualisasi bahasa Roh, pengurapan doa-doa penyembuhan dan kebaktian kebangunan Rohani (KKR ), semuanya cendrung menggiring umatnya pada kegilaan.

Bersyukur bahwa sejak dari awal Firman Tuhan sudah menjelaskan tentang kebodohan ini, tetapi sekaligus juga memperingatkan umat yang percaya, agar jangan bodoh. Bagaimana Firman Tuhan “menjelaskan” sekaligus “mengingatkan”, “membelai” sekaligus “nempeleng” tentang kebodohan ini? Kalimat “menjelaskan” lebih mengacu bahwa sejak dari awal Allah tahu ( bahkan maha tahu ) bebalnya umat Kristiani, malasnya umat Kristiani dan bodohnya umat Kristiani yang kerjanya cuma percaya dan berharap/minta dalam mengimplementasikan Firman Tuhan. Allah memang mengajarkan tentang iman percaya dan berharap/minta kepadaNya, tetapi Firman Tuhan tidak hanya berisi iman percaya dan berharap/minta saja. Ada kata atau kalimat dalam Firman Tuhan yang justru menjadi referensi dan relevansinya dengan iman percaya dan berharap/meminta. Kata atau kalimat itu yalah : taklukanlah dan berkuasalah. Alih-alih untuk mengimplementasikan kalimat itu, umat Kristiani malah berdalih bahwa manusia itu terbatas kemampuannya dan kalau mampupun biasanya justru mengarah pada arogansi dan keangkuhan egoisme dan yang paling parah adalah murtad dan durhaka yang mereka sendiri sadari (mengartikan) sebagai penentangan akan kemahakuasaan Allah. Cobalah renungkan…apakah Allah memang senang jika umatnya disebut orang “bodoh” Lalu bagaimana penghayatan kita pada Firman Tuhan dalam Yoh 3:16? Kalau begitu besar kasih Allah akan dunia ini, itu berarti ada alasan kuat hingga Allah mengaruniakan AnakNya yang tunggal itu. Apakah sekedar untuk menyelamatkan umat yang percaya semata atau karena umat yang diciptakan Allah adalah serupa dan segambar dengan kehendak Allah itu sendiri? Itulah sebabnya seringkali Firman Tuhan disampaikan dalam bentuk perumpamaan pada masa pelayanan dan lawatan Yesus di dunia ini ribuan tahun yang lalu. Dan hanya orang yang berhikmat yang mampu mengartikan apa yang tersembunyi dalam seluruh FirmanNya. Cobalah renungkan seberapa banyak umat masih suka dalam kebutaan (rohani) hingga memerlukan jamaah Tuhan untuk mencelikannya. Seberapa banyak umat yang lumpuh (rohaninya) yang harus dijamah oleh kuasa Tuhan? Kalau dulu kusta merupakan ( diartikan ) kutukan, sekarang bahkan seorang lady Diana pun berani menghampiri mereka yang kusta untuk menyatakan kasih dan perhatiannya karena kusta bukan lagi sesuatu kutukan atau menakutkan.

Berapa banyak hamba Tuhan bebal yang ( merasa ) terpanggil dengan label ministrynya dan persekutuannya menggiring umatnya untuk menyambut kedatangan Yesus yang kedua kalinya. Padahal bahkan kunci kerajaan Sorga sudah diserahkan kepada manusia yang diwakili oleh Petrus di Kaesaria dua ribuan tahun yang lalu. Memang dikatakan dalam Firman Tuhan bahwa Dia akan datang kedua kalinya tapi mengenai waktunya hanya Allah yang tahu. Bukankah kalimat “jangan bodoh” menjadi peringatan untuk kita semua umatnya. agar tahu dimana kerajaan Allah yang ingin dituju. Firman Tuhan tidak pernah meminta kita membentuk ministry atau persekutuan karena memang persekutuan itu telah ada dan telah diserahkan pengelolaannya kepada manusia yang diwakili Petrus. Mandat lain yang telah diserahkan Allah kepada manusia yaitu Amanat agung dalam Matius 28:19-20. Allah tahu (bahkan maha tahu ) maka sejak awal telah dijelaskan tentang kebodohan umatNya tapi sekaligus Dia mengingatkan agar umatNya jangan bodoh. Percaya dan berharap/meminta hanya kepadaNya adalah batang tubuh (inspirasi) dari semua kegiatan dan karya umat manusia dalam menghayati, menjalani dan menyiasati kehidupan ini Dari sanalah Firman Tuhan menjadi berarti bagi kehidupan manusia dalam ucapan syukur dan puji-pujian semata karena Allah bertakhta diatas puji-pujian.

Andai Alkitab Ditulis pada Abad Dua Puluh Satu

Andai Alkitab Ditulis pada Abad Dua Puluh Satu

Banyak isi Alkitab terutama dalam Perjanjian Lama yang pembacanya harus punya cukup pengetahuan untuk memahami dan mengerti baik dari sisi waktu peristiwa – peristiwa itu terjadi, pengetahuan penulisnya dan makna rohani yang ingin disampaikan.

Bagi orang awam yang membacanya, barangkali tidak mempermasalahkan bagaimana hal ikhwal penciptaan dalam Kejadian 1 : 1 – 28. Tapi bagi para ilmuwan Kejadian 1 : 1 – 28 merupakan objek yang harus dijadikan penelitian dan dicarikan jawabannya bagaimana hal penciptaan itu terjadi. Sayangnya para pakar Theologi kadung membuat statement dan kekeh menyatakan bahwa Alkitab atau Firman Tuhan hanya dan harus dipahami dan dibaca berdasarkan iman, doa memohon pimpinan Roh Kudus dan dari latar belakang theology. Diluar pemahaman itu pastilah dianggap salah dan cendrung bertentangan dengan kehendak Allah yang menjadi inspirasi penulisan ALkitab.itu sendiri. Dari pemahaman awal ini saja, dapat kita rasakan adanya kontroversi bahwa sesungguhnya Alkitab tidak hanya diwahyukan,diturunkan bagi umat Kristiani semata, tetapi pastilah Alkitab itu diberikan untuk seluruh umat manusia. Pertanyaannya menjadi sederhana atau kita sederhanakan saja; Apasih yang sudah dapat dipahami dan dimengerti oleh mereka yang masuk dalam kategori umat Kristiani? Atau apasih yang sudah mereka hasilkan terutama bagi hajat hidup orang banyak? Tidakkah pemahaman seperti ini mencerminkan pemahaman yang sempit dan menciptakan rutinitas keseharian yang menjemukan dikalangan umat Kristiani sendiri. Cobalah kita lihat kehidupan sehari – hari semua umat manusia. Bukankah ibadah hanya dilakukan sehari dalam seminggu itupun hanya satu dua jam. Kemudian pada hari hari berikutnya hanya satu dua menit berdoa paling lama yah… satu jam. Bagi mereka yang aktif paling tidak tujuh jam waktunya dihabiskan untuk kerja dan berkarya, sisanya untuk kebugaran tubuh, bersosialisasi dengan keluarga dan handai taulan.

Setiap kali Firman Tuhan dibacakan saat ritual ibadah memasuki sesi pemberitaan Firman Tuhan di banyak gereja – gereja mainstream selalu dilafalkan kalimat …berbahagialah orang yang mendengarkan Firman Tuhan, merenungkannya dan melakukannya dalam kehidupan sehari – hari. Imbauan pada kata mendengarkan mungkin masih mudah, demikian juga pada kata merenungkan masih dapat dimengerti sekalipun dengan mengkernyitkan dahi karena mungkin kurang bisa memahami Firman Tuhan yang dibacakan. Nah pada kata melakukannya dalam kehidupan sehari –hari malah njelimet karena memang bingung dan tidak mengerti apa yang harus dilakukan sehubungan dengan Firman Tuhan yang disampaikan bahkan sesudah dikupas dan diuraikan detailnya. Hal ini menjelaskan betapa sulitnya Firman Tuhan dapat dipahami dan dimengerti oleh orang awam bahkan sesudah dikupas dan diuraikan mendetail sekalipun. Berapa banyak jemaat yang hadir di ritual ibadah terkantuk kantuk pada saat pemberitaan Firman Tuhan baik karena kurang tidur, kelelahan setelah kerja berhari – hari atau karena memang pemberitaan Firman Tuhan yang membuatnya terkantuk – kantuk. Terlepas dari kemampuan hamba Tuhan yang berkhotbah, Alkitab memang bukanlah kitab yang mudah dimengerti dan dipahami karena selain berisi sejarah, peristiwa peristiwa luar biasa yang diartikan sebagai keajaiban/mujizat, ramalan ramalan masa depan yang dipahami sebagai nubuatan dan keyakinan yang harus diterima sekalipun tidak dialami dan disaksikan sebagai iman percaya. Disatu sisi peranan dan bimbingan Roh Kudus memang harus menjadi yang utama dan sisi lainnya yah hikmat akal budi untuk mampu mengerti dan memahami Firman Tuhan. Mengapa demikian? Yang pasti; karena Firman Tuhan disampaikan kepada mereka yang hidup baik jasmani maupun rohani ( bukan orang mati ) mereka yang waras dan sadar ( bukan orang gila atau mabuk ) Nah bagi mereka yang ingin tahu lebih mendalam ada beberapa buku pendamping semisal konkordansi, kamus Alkitab, referensi dari satu ayat dengan ayat yang lainnya biasanya sebagai catatan kaki. Semuanya masih dalam lingkup kaca mata kerohanian dan theologis saja. Kalau geliat dan hiruk pikuk dunia boleh jadi referensi dalam memahami Firman Tuhan, barangkali isi Alkitab akan punya daya tarik sendiri dan sangat potensial membimbing dan mengarahkan kemana dan bagaimana sebaiknya umat manusia bergerak dan berkarya dalam artian mengexploitasi dan mengexplorasi seluruh ciptaanNya. Amat disayangkan jika tentang exploitasi dan explorasi ini diserahkan kepada dunia sekuler karena hasilnya tidak membatasi yang baik dan jahat, yang boleh dan yang dilarang, yang benar dan yang salah. Karuan saja geliat dunia dengan hiruk – pikuknya membuat mereka yang memberitakan Firman Tuhan kebakaran jenggot seakan dunia mengundang amarah Sang Khalik dan akan datang untuk menghakimi para pelaku keonaran di dunia.

Andai Alkitab ditulis abad ini, mungkin hal penciptaan, perangkat hukum dan undang – undang, prediksi masa depan, dan semua disiplin ilmu pengetahuan akan tertuang secara gamblang, lugas dan ilmiah. Para hamba Tuhan yang mendapat mandat atau mereka yang terpanggil untuk memberitakan Firman Tuhan seyogyanya mampu memahami umatnya dan mengarahkannya untuk berkreasi dan berkarya tidak hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, hajat hidup orang banyak, eko system, bahkan penjelajahan akan jagat raya sehingga hidup yang kita jalani bersama ini lebih nyaman dan bertanggung jawab dan nama Tuhan dimuliakan. Satu hal yang pasti dalam Firman Tuhan yaitu beranakcuculah dan bertambah banyak. Penuhilah bumi dan taklukkanlah itu. Berkuasalah atas ikan ikan di laut, burung – burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi. Inilah mandat kepada manusia sebelum manusia jatuh dalam dosa. Kiranya kasih karunia dari Tuhan membawa pencerahan bagi kita umatNya. Amin

Bantul 19 Maret 2009.

Hardo Jayadi Setiawan.

Call Sign Musafir

11 Maret 2009

PERANAN MANUSIA DALAM PERSPEKTIF KEHENDAK ALLAH

Kita mulai tulisan ini dengan mengacu kepada Firman Tuhan dari kitab Kejadian 1 : 26-28 dan perhatikan kata "berkuasalah". Kata berkuasalah adalah mandat, perintah, atau penganugerahan otoritas Allah kepada manusia sebagai rekan sekerja dalam mewujudkan kehendak-Nya. Sementara ketiga jenis makhluk yang harus dikuasai adalah kiasan tentang ilmu pengetahuan untuk mengeksploitasi dan eksplorasi ciptaan-Nya (lihat Kejadian 1 : 1-25).

Kalau saja Hawa tidak tergoda oleh si ular, mungkin kehendak Allah ini menjadi "penting-tidak penting" dalam artian manusia sebagai ciptaan-Nya, tidak perlu bersusah payah untuk berpikir, bekerja, dan memberi hasil. Toh, hidup sudah nyaman. Apapun juga yang diinginkan manusia pada waktu itu pastilah sudah tersedia.

Di dinilah menjadi inspirasi bagi manusia untuk berkreasi dan berkarya, tetapi jangan lupa hal inipun masih dalam kerangka grand design kehendak-Nya. Bahwa selanjutnya ada hukum-hukum dan aturan-aturan yang dibuat Allah semata-mata agar manusia dalam eksploitasi dan eksplorasinya tetap dalam kerangka grand design kehendak-Nya.

Apa yang menjadi grand design kehendak-Nya? Apa yang harus menjadi acuan kita?

Sejak Hawa menerima godaan sang ular, saat itu juga kehendak Allah berlaku dalam peranan manusia. Mula-mula berpakaian dari rasa ketelanjangan, dengan mencari makan untuk menghilangkan rasa lapar, dan seterusnya. Dari sepasang manusia ciptaan Allah hingga tak terhingga dan masih terus bertumbuh sesuai dengan apa yang ingin diekploitasi dan dieksplorasi manusia itu sendiri, Firman Tuhan hanya mengatakan "beranak-cuculah dan bertambah banyak, penuhilah bumi dan taklukkanlah itu". Manusia dengan ilmu pengetahuannya sudah mampu bongkar-pasang dan menentukan jenis kelamin anak yang mau dilahirkan dengan tranplantasi dan clonning bayi tabung, bahkan dengan rekayasa genetika bisa dibuat organ-organ tubuh.

Dalam perkembangannya manusia mulai memahami faktor sebab-akibat dan bermuara pada rumusan-rumusan dan disiplin ilmu pengetahuan. Perkembangan itu berjalan lambat dalam ukuran ribuan tahun, bahkan jutaan tahun. Dalam Alkitab dikatakan bahwa satu hari sama dengan seribu tahun. Jadi, jutaan tahun dalam ukuran manusia/dunia, mungkin cuma beberapa hari/tahun dalam ukuran Tuhan. Hitungan satu hari adalah bumi mengelilingi matahari selam kurang lebih 24 jam yang disebut satu hari. Bayangkan sorga yang jaraknya pasti lebih jauh dari matahari dengan kecepatan mengelilingi mungkin lebih cepat atau lambat dari bumi, masanya adalah seribu tahun. Silahkan keluarkan kalkulator Anda dan coba kira-kira pada jarak berapa letak sorga itu. Sulit memang, tapi mulai dapat diprediksi atau diperkirakan di mana sorga itu. Bagi manusia ukuran ini luar biasa mendekati keajaiban, jika manusia dapat membuktikannya. Bagi Allah, hal itu biasa saja. Cobalah kita masuk dalam persepsi bahwa kita manusia adalah rekan sekerja Allah, maka tak ada kata "manusia menentang Allah". Sangat jelas jika semua mau dimulai dari kitab Kejadian 1 : 26-28. Pada bagian lain Alkitab juga dikatakan "takut akan Allah adalah permulaan hikmat", salahkah manusia jika dengan hikmat dan akal-budinya mengeksploitasi dan mengeksplorasi ciptaan-Nya dalam perspektif takut akan Allah.

Adalah kontroversi dan terlalu naif jika kita memulangkan anugerah otoritas ini kepada Tuhan dalam menjalani kehidupan ini hanya dengan pengertian percaya, beriman, dan berharap kepada-Nya, seakan kita duduk manis saja di rumah, maka segala persoalan kita selesai dengan memuaskan. Retorika para hamba Tuhan adalah "kalau kita berprofesi sebagai dokter misalnya, hendak-lah dilakukan demi dan untuk kemuliaan nama Tuhan". Demikian juga dengan sejuta profesi lainnya baik formal maupun nonformal. Sebagai pesan khotbah atau renungan yang disampaikan melalui mimbar memang demikian seharusnya. Tetapi gereja sebagai institusi, apa yang sudah dilakukan bagi hajat hidup orang banyak di luar peribadahan? Sekedar berdiakonia? Sedekah? Atau sumbang sana sumbang sini?

Dalam kesehariannya, para hamba Tuhan warna-warni melayani jemaatnya terutama konseling. Tak ada yang tahu bagaimana berhasil tidaknya konseling dalam mengatasi permasalahan jemaat. Beberapa yang berhasil diekspose sebagai keajaiban atau mukjizat dalam perspektif iman percaya, kuasa doa, dan kharisma hamba Tuhan-nya. Kesan fenomenal ini mengundang minat dari buruh harian hingga konglomerat untuk datang menyaksikan dan mengalaminya, lalu momen yang bagus ini dikembangkan menjadi kebaktian-kebaktian kebangunan rohani (KKR). Saking fenomenalnya, ada gereja yang berani mengadakan ibadah "setiap" minggu dengan label KKR, ada juga yang dengan visi misi mempersiapkan jemaat secara vertikal-horisontal untuk menyambut kedatangan Yesus. Yang lainnya dengan semboyan "lebih dari pemenang", dan banyak lagi yang bombastis. Tapi cobalah perhatikan bagian terpenting dari ritual ibadahnya, yaitu pemberitaan Firman Tuhan -nya sebagian besar kalau tidak mau dibilang semua khotbahnya berputar-putar, mengulang-ulang, dan ayat Firman Tuhan-nya comot sana comot sini. Penekanannya yaitu tadi, pengalaman karunia, baik karunia bahasa roh, kesembuhan, nubuatan, penglihatan, urapan, dan sukses jasmani rohani, di luar itu jemaat harus siap dihakimi dengan penekanan kepada dosa-dosa, baik dosa hari ini, kemarin, atau bahkan dosa yang dilakukan orang-tuanya, dari dosa seksual (perzinahan) hingga pendurhakaan. Lengkaplah tudingan itu jika ada jemaat yang belum mengalami karunia minimal bahasa roh, lalu dalam konseling dengan istilah general cek-up, jemaat yang sudah seperti pasien didiagnosa, apakah ada dosa yang belum dibersihkan. Praktek yang sudah mirip-mirip klenik karena mereka yang mengaku hamba Tuhan beberapa tanpa latar belakang gelar akademik yang menangani general cek-up ini. Tidak juga diketahui bagaimana hamba Tuhan ini bisa menjadi gembala sidang di salah satu gereja ini. Hamba Tuhan yang lainnya menantang jemaatnya untuk mengalami kemurahan Tuhan. Yang mengejutkan jemaat dihimbau untuk menyerahkan harta bendanya atau apapun juga melalui gerejanya untuk pelayanan, dalihnya. Sulit untuk dimengerti dan difahami tantangan dan himbauan ini karena yang dimaksud itu apakah gereja sedang cari dana atau menjual kemurahan Tuhan. Pada akhirnya tidak hanya kredebilitas hamba Tuhan, gerejanya, pengajarannya, dan seperti apa kualitas jemaatnya menjadi tanda tanya besar. Mereka yang terpanggil untuk menyerahkan harta bendanya tidak jelas stabilitas emosinya, karena beredar juga berita-berita miring bahwa mereka heran mengapa menyerahkan harta bendanya dan menyesal. Belum lagi pada satu dua dekade terakhir ada yang berani meramalkan hari kiamat. Sekte kemah Daud di Bandung sempat mempersiapkan jemaatnya untuk menyongsong kedatangan Yesus, tetapi tidak terjadi apapun. Beberapa yang katanya mendapat karunia penglihatan, bicara tentang akan terjadi gempa dan tsunami di Pulau Jawa bagian Tengah dan Timur, tetapi sesudah ditunggu-tunggu, juga tidak terjadi apapun. Ada lagi beberapa gereja yang sudah mengarah pada kegilaan dalam ritual ibadahnya. Coba saja tengok beberapa gereja, tergantung mood hamba Tuhannya dalam ritual ibadahnya. Kalau hamba Tuhan lagi mood untuk puji-pujian, maka sepanjang ritual ibadahnya ya cuma puji-pujian, doa, dan yang pasti kolekte tidak pernah dan tidak mungkin dihilangkan. Demikian juga kalau lagi moodnya khotbah atau pernah juga cuma kesaksian-kesaksian jemaatnya. Lalu apa komentar dari para pemerhati dan para pencari berita? Hal di atas dianggap sah-sah saja dengan alasan ingin menghadirkan dan menempatkan Tuhan yang memimpin dan berbicara dalam ritual ibadahnya.

Ini sekedar gambaran hiruk-pikuk gereja-gereja yang katanya melayani jemaat.

Gereja-gereja main stream mulai kewalahan karena ritual ibadahnya terasa jemu dan membosankan. Herannya mereka terpengaruh aktivitas kerohanian di luar gerejanya, semisal perangkat musiknya, tepuk tangan, dan pembawa acara yang menyemangati jemaatnya untuk interaktif dalam ritual ibadahnya. Persoalan gereja-gereja main stream sebenarnya bukan terletak pada ibadah yang menjemukan, tetapi lebih kepada hamba Tuhannya yang tidak memahami kehidupan nyata di luar kerohanian (dunia sekuler), penguasaan bahasa dan gaya orasinya. Kebanyakan dari mereka gayanya kaku, miskin perbendaharaan kata dan bahasa, dan pokok bahasannya tidak langsung menyentuh persoalan-persoalan yang sedang dihadapi jemaatnya. Bahwa mereka yang merasa terpanggil atau dalam jenjang pendidikannya tidak ada pilihan lain, jadilah mereka sebagai hamba Tuhan abangan, alias teks book. Jadilah gereja-gereja main stream terkesan jemu dan membosankan.

Adalah Petrus seorang nelayan temperamental yang pertama dipanggil menjadi rekan sekerja Yesus kerapkali membuat pernyataan dan tindakan yang kontroversi dalam kebersamaannya bersama Sang Guru. Berapa banyak sukacita dan keajaiban yang dialami Petrus bersama Sang Guru buat ukuran kita pastilah luar biasa. Dari sekian banyak rekan sekerja Yesus pada waktu itu, mungkin Petrus-lah yang paling berani sekaligus yang paling pengecut, paling setia, sekaligus tukang pembantah, sekaligus menantang. Sisi kehidupan Petrus bersama Sang Guru hampir bisa dikatakan mewakili kita dengan berbagai persoalan, karakter dan tingkah laku. Petrus mungkin bukan yang terbesar dan terkemuka dalam Perjanjian Baru, apalagi dibanding Lukas sang dokter atau Yohanes Pembaptis yang merintis jalan bagi Yesus dan yang terakhir Paulus bin Saulus yang surat-suratnya mendominasi sebagian besar Perjanjian Baru, Petrus hanya portrait keluguan dan kesederhanaan isi hati dan pemikiran manusia. Namun kepadanyalah Yesus memberikan kunci kerajaan sorga dengan mandat untuk "mengingat, menimbang, dan memutuskan/menetapkan" semua perkara di dunia. Implementasi rapat internal Yesus sebagai manager dengan para staf rekan sekerjanya di Kaesaria Filipi ini adalah berdirinya sebuah kerajaan teokrasi yang kini berpusat di Vatikan. Rajanya yang memerintah hanya dilambangkan dengan bentuk salib, sementara sehari-hari dipimpin seorang pope yang dibantu beberapa menteri, dan salah satunya menteri riset dan pengembangan yang menjadikan semua disiplin ilmu pengetahuan sebagai obyek penelitiannya. Kekuasaannya menyebar melintasi batas-batas negara ke seluruh bagian dunia yang dipimpin masing-masing oleh seorang kardinal/uskup dan di bawahnya para pastor. Kehadirannya bisa dirasakan melalui misa yang menghantarkan umatnya untuk mengenal, percaya, berharap, dan menyembahnya. Sementara dalam melayani hajat hidup orang banyak mereka hadir dengan pusat-pusat pendidikan formal maupun nonformal, pusat-pusat layanan medis, pusat-pusat media komunikasi dan elektronik dan berbagai layanan yang berbasis teknologi, pelatihan-pelatihan manajemen dan keterampilan kerja. Semuanya dengan kualitas terbaik. Kerajaan ini dalam perjalanannya bukan tanpa cacat-cela, salah satunya yang mungkin tak terampuni adalah surat pengampunan dosa yang menimbulkan perpecahan, yang lainnya adalah bantahan terhadap statement Galilea Galileo. Pada akhirnya pope dengan arif bijaksana mengakui kesalahan ini dan memperbaikinya. Di sisi lain adalah beberapa fungsionaris/ aparatnya yang terlibat kasus kawin cerai, homo seksual, vedofilia, namun yang ini bersifat individual. Sebagaimana kerajaannya hanya dipimpin oleh sebuah lambang salib, ternyata dasar negaranya juga adalah salib, dimana garis vertikal dijabarkan sebagai menghantar umat manusia mengenal Sang Khalik melalui misanya, sementara garis horisontal adalah layanan atas hajat hidup orang banyak di dunia sekuler. Kalau kita telusuri lebih jauh, itulah hukum kasih yang terdapat dalam Injil. Hukum kasih juga bisa diartikan perpaduan dua kutub di mana Allah pemilik otoritas dan manusia yang diberi mandat bersinergi. Lihatlah karya-karya fenomenal dan monumental yang sudah dihasilkan manusia, tak ada lagi misteri Alkitab yang belum terjawab. Kalaupun ada, itu hanyalah persoalan waktu untuk mengungkapkannya. Apakah Anda mau bergabung atau cukup dengan iman percaya saja sambil mengejar mukjizat-mukjizat? Di Eropa dan Amerika, beberapa ritual ibadah mulai ditinggalkan umatnya, hal ini bukan karena dunia kegelapan yang diwakili Lucifer berusaha keras menjaring sebanyak mungkin pengikutnya, tetapi lebih disebabkan oleh mereka yang tak mampu menjawab persoalan dan hiruk pikuk geliat dunia nyata. Mereka yang bertahan membentengi diri dengan tembok dosa sehingga tak ada apapun yang mereka lakukan, padahal rusak susu sebelanga hanya oleh setitik nila dalam artian betapa rapuhnya kemurnian/kekudusan.

Dari sekian banyak gereja yang mengerucut menjadi beberapa denominasi barulah bisa kita lihat eksistensi dan legalitasnya, struktur organisasi, dan visi-misinya. Tanpa kita sadari sebenarnya data-data seperti ini diperlukan karena dewasa ini sudah banyak yang menyimpang. Cobalah kita lihat penyelenggaraan suatu ritual ibadah yang berkesinambungan diselenggarakan di restoran, di hotel, di tempat-tempat terbuka dan di stadion-stadion. Beberapa lalu hilang tak berbekas dengan setumpuk masalah yang ditinggalkan. Jangan heran dan jangan kaget, karena ada juga gereja yang sepenuhnya milik pribadi seseorang tetapi masuk ke area publik dengan dogma dan peraturannya sendiri. Mungkin kita bersyukur dengan pertumbuhan persekutuan-persekutuan di banyak tempat dan wilayah, baik atas gagasan sekelompok orang/umat maupun hasil dari pemekaran gereja induk, tetapi mungkin kita juga terperangah dan terkejut jika mengetahui pertumbuhan ini lebih disebabkan kekecewaan orang per orang maupun kelompok atas gerejanya dan sepakat untuk membuka persekutuan baru. Tidak diketahui apakah persekutuan-persekutuan baru ini resmi atau tidak, yang jelas tanpa papan nama dan kalaupun ada lebih mirip spanduk iklan keluarga dengan tulisan kharismatik family centre. Sulit untuk bisa dimengerti apakah sedemikian besar dorongan untuk ibadah sehingga kaidah-kaidah dan norma-norma yang ada boleh diabaikan semaunya. Tidak hanya itu, siap penanggungjawabnya, siapa pelayan firman, siapa penatuanya, semua tidak jelas. Dampak pertama yang timbul dari pertumbuhan ini adalah jemaat/umat menjadi domba liar yang jadi rebutan. Apa yang bisa dikatakan dengan realita ini? Jangan salahkan jika ada penindasan, pemberangusan, karena cara-cara seperti ini hanya menimbulkan kecemburuan dan kebencian. Mungkin kita tulus seperti merpati, tetapi tidak cerdik seperti ular, dan lebih dari semuanya itu, sesungguhnya kita tidak melaksanakan mandat yang sudah Allah berikan bahkan sebelum manusia jatuh dalam dosa yaitu berkuasalah.

Berkuasalah atas dunia pendidikan, baik formal maupun nonformal, berkuasalah atas dunia medis, berkuasalah atas suplay dan demand, maka banyak orang akan merasa berkatnya, banyak orang akan dicerahkan, banyak orang akan menerima damai sejahtera, dan Allah bertahta di sana. Masihkah kita hanya mengejar karunia-karunia, mukjizat-mukjizat, dan urapan-urapan? Bahwa sesungguhnya semuanya itu sudah diberikan, bahkan nyawa-Nya sekalipun sudah Ia serahkan di kayu salib, mati lalu bangkit untuk menyertai sepanjang kehidupan kita dengan Roh Kudusnya, sementara Dia menyediakan tempat di sorga sana.

Ingatlah, jangan sampai Firman Tuhan dalam Matius 7 : 15-23 berlaku atas kita.

Bersama Tuhan kita lakukan perkara yang besar.