11 Maret 2011

Garam dunia dan Terang dunia

Judul di atas adalah bagian Khotbah dibukit dalam Injil Matius yang menguraikan beberapa pokok pengajaran Yesus baik dalam kehidupan jasmani maupun rohani.Dimulai dengan perikop ucapan bahagia, judul di atas adalah perikop kedua sesudahnya. Kita kupas saja satu persatu dari judul di atas dimulai dengan garam dunia. Banyak hal tentang garam yang bisa kita bahas disini. Dalam banyak khotbah para hamba Tuhan tentang garam, selalu dihubungkan dengan makanan sebagai penyedap. Kalau kupasan Firman Tuhan ini hanya diartikan sebatas penyedap, mungkin saya adalah orang pertama yang akan pindah agama karena betapa menyedihkan umat Kristiani hanya ibarat penyedap makanan yang kalau penikmatnya sedang nyaman menikmati, toh bukan garamnya yang diceritakan tetapi kokinya, apalagi kalau makanannya tidak nyaman dinikmati, yah seperti Firman Tuhan katakan hanya akan dibuang dan diinjak – injak orang. Ini berarti bahwa Umat Tuhan tidak dalam posisi garam sebagai penyedap masakan semata, maka garam dalam Firman Tuhan ini pastilah punya makna lebih luas ketimbang garam sebagai penyedap masakan. Dalam tubuh manusia, garam memegang peranan penting sebagai penetrasi, pengatur dan penghantar energi kesemua organ tubuh. Kalau anda terluka, cobalah rasakan garam dalam kandungan darah. Demikian juga dengan keringat dan anda akan terkejut karena garam juga ada dalam sperma. Ini berarti Anda dan saya sebagai garam seyogyanya berperan aktif baik secara pribadi, keluarga dan masyarakat pada umumnya. Baik dalam institusi keluarga, gereja, lingkungan sekitar dan bahkan pemerintahan. Nah cobalah anda renungkan apakah anda dan saya sudah berperan sebagaimana fungsi garam yang ingin dikisahkan dalam Firman Tuhan. Pada bagian lain garam juga berfungsi sebagai penyubur, penguat dan pengikat bagi tanah dan tanaman, yang disebut hara. Demikianlah fungsi garam dengan peranannya bagi manusia dan alam.

Kenapa garam ditempatkan mendahului terang dunia dalam perikop ini. Apakah ini hanya karena tata bahasa atau ada makna lain yang ingin disampaikan dalam perikop ini? Kita kupas saja bagian keduanya yaitu terang dunia. Terang dunia dalam perikop ini diilustrasikan dengan sebuah kota diatas gunung yang tidak mungkin tersembunyi dari penglihatan baik nampak jelas maupun samar – samar. Hal ini harusnya lebih diartikan sebagai peranan kita dalam uraian tentang garam tadi. Apakah peranan kita pribadi keluarga maupun ditengah masyarakat atau dalam berbagai institusi sudah nampak atau tidak dapat tersembunyi? Pengertian tentang terang dunia ini mau tidak mau haruslah menampakan kebaikan dan kebenaran sehubungan dengan makna yang ingin disampaikan Yesus melalui pengajaran dan lawatanNya di dunia ini. Ilustrasi yang kedua adalah dian. Kita tahu dian adalah lentera atau lilin atau lampu yang apabila dinyalakan barulah menerangi sekelilingnya. Dian haruslah dinyalakan agar berfungsi untuk menerangkan. Dalam hal ini Dian adalah sumber dari segala sesuatu yang diketahui dan yang ingin diketahui oleh kita manusia. Oleh sebab itu harus diberitakan, harus diaktualisasikan dan harus memberi manfaat dalam pencerdasan dan pencerahan bagi umat manusia tentunya.

Kita tidak mungkin menjadi terang dunia apabila kita belum menjadi garam dunia. Tapi kita sudah menjadi bagian terang dunia apabila kita sudah menjadi garam dunia. Janganlah kita hanya menjadi pembawa berita semata karena seharusnya kita menjadi pelaku. Oleh sebab itu garam dunia ditempatkan pertama barulah terang dunia kemudiannya. Dewasa ini pemberitaan Firman Tuhan terasa begitu sensasional karena tidak hanya sebatas kegiatan ibadah yang diadakan di gereja gereja,tetapi bahkan sudah merambah ke hotel-hotel, restoran-restoran, mall-mall, perumahan-perumahan, tempat-tempat terbuka dan stadion- stadion olahraga. Sulit untuk mengartikan pemberitaan Firman Tuhan ini sebatas kegiatan kerohanian semata atau gejala apakah dari kegiatan ini, Sekiranya memang ada kerinduan dan kehausan dari umat atau jemaat untuk merenungkan Firman Tuhan, apakah gereja yang ada tidak mengerti dan tidak mampu untuk menyelenggarakan ibadah sesuai dengan tujuan dan kebutuhan jemaatnya. Atau karena gamang dan merasa mampu untuk menyelenggarakan ibadah sesuai keinginan kelompoknya semata, maka pemberitaan Firman Tuhan terkesan sensasional seakan ada pertumbuhan dan semangat baru dalam perkembangannya. Wallahu Alam. Yang pasti gereja sebagai institusi terkesan berantakan di obrak-abrik oleh mereka yang merasa terpanggil mengembangkan pelayanan pemberitaan Injil ini. Jangan sekali-kali anda menuding karena mereka akan merasa dihakimi, dan sejumlah ayat Firman Tuhan mereka jadikan senjata untuk membela apa yang mereka anggap benar. Diluar sana, kalau kita mau jadikan tolok ukur sebagai pembanding atas kegiatan pemberitaan Injil ini, apakah dunia makin baik, adakah kesadaran yang mengarah pada pertobatan dan menata hidup kearah yang lebih baik dan beradab atau justru membuat jurang pemisah makin lebar dan tak terjembatani sehingga menciptakan sekelompok society yang hidup seperti diabad-abad permulaan. Hidup hanya mengandalkan kasih karunia, padahal yang Allah berikan adalah mandat agar mengelola dan menaklukkan dunia ini. Bagaimana sementara umat diarahkan untuk tidak berfikir duniawi dan mengejarnya, namun hampir semua produk dunia memenuhi tidak hanya dalam keluarga-keluarga tapi bahkan sudah merambah sampai kerumah-rumah ibadah.Dunia yang seharusnya menjadi ladang garapan justru diabaikan hanya untuk kepentingan pemahaman orang-orang frustrasi yang menamakan dirinya Hamba Tuhan dan menggiring jemaatnya yang awam dan mudah dipengaruhi kea rah kegilaan dengan ritual-ritual ibadahnya. Kalau sungguh-sungguh punya kerinduan dan kehausan akan Firman Tuhan, mengapa justru institusi gereja yang ada diobrak-abrik hanya untuk pemahaman sempit sehingga banyak tumbuh persekutuan-persekutuan dengan menggunakan label ministry. Alih-alih untuk mengucap syukur dan memuliakan nama Tuhan, gejala ini sudah akan mendatangkan murka Allah karena orientasinya hanya mengejar mujizat dan kesuksesan dengan theology kemakmurannya. Benarlah apa yang disindirkan GusDus tentang keKristenan bahwa kegiatan umat Kristen jangan dilarang atau dipersulit, karena mereka akan ribut sendiri dengan perselisihan dan pertentangan diantara mereka. Bahwa sesungguhnya keKristenan harus membawa pencerahan dan kecerdasan agar menjadi penerang dalam pemberitaan Injil yang diemban sebagai amanat agung. Menghadirkan kerajaan Allah dan damai sejahtera tidak hanya bagi umat yang mengaku percaya, melainkan bagi seluruh umat manusia ciptaanNya. Tak ada alasan untuk memilah-milah Kristen non Kristen dihadapan Allah. Yang ada sudahkah kita melakukan kehendak Bapa di Sorga atau kita memperkosanya hanya untuk kepentingan dan kemauan kita sendiri. Kiranya perikop tentang Garam dunia dan terang dunia membuka wawasan dan pola pikir kita dalam mengaktualisasi diri, keluarga, gereja, lingkungan sampai pada pemerintahan. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pucung, Bantul 7 April 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jika ada saran, komentar, pertanyaan, atau kritikan, silahkan Anda ketik di kolom komentar. Terima kasih atas kunjungan Anda ke web blog saya.